Malas Melangkah, Penyakit-pun Bertingkah

SERUJI.CO.ID – Melangkah, berjalan sebenarnya adalah insting bawaan manusia. Sewaktu dalam rahim Ibu yang sempit saja seorang janin sudah belajar mengerakkan ke dua tungkainya. Setelah lahir sang bayi juga akan menghentak-hentakkan ke dua tungkainya dengan ceria. Dan, lebih penting lagi, gerakan-gerakan itu adalah tanda kehidupan dan sehatnya sang janin

Lalu, menjelang usia satu tahun sang bayi sudah mulai melangkah setapak demi setapak. Seperti tidak mengenal lelah, walau jatuh-bangun, dia mencoba terus untuk tegak, berjalan, dan akhirnya dia bisa berdiri kokoh dan berlari. Ekspresi ceria, senang dan puas akan terpancar dari wajahnya ketika sang bayi itu sudah bisa berjalan, berlari, dan tentu saja setelah, berjalan, berlari kian-kemari dia akan tertidur pulas.

Berjalan juga merupakan fungsi intrinsik otomatis manusia, yang memberi kita kemudahan untuk bergerak dan mendukung aktifitas kita. Nenek moyang kita dulu, hampir semua kegiatan sehari-harinya mengandalkan fungsi ke dua tungkainya. Mereka berjalan dari suatu tempat ke tempat lain, mengendap waktu mengintai dan berlari mengejar buruannya, ataupun menghidar dari ancaman binatang buas yang ada di depannya. Jalan, berlari adalah aktifitas sehari-hari yang harus dilakukan agar tetap hidup

Dalam beberapa dekade sebelum ini, ke dua tungkai kita masih merupakan pendukung utama kegiatan aktifitas kita. Waktu saya masih sekolah rakyat, tahun 60-an ke sekolah hanya jalan kaki, Pulang sekolah juga banyak bermain di luar rumah, main bola, sepak tekong, berlari, berenang, kejar-kejaran, seperti tidak mengenal lelah sama sekali.


Pada saat SMP dan SMA juga sama saja. Rumah sekolah yang berjarak sekitar empat kilo meter, juga saya tapaki dengan ke dua tungkai saya. Bahkan ketika kuliah saya lebih sering berjalan kaki dibandingkan naik angkutan kota di Yogya 40 tahun yang lalu. Barangkali, inilah salah satu sebabnya mengapa teman-teman saya waktu itu boleh dikatakan tidak ada yang gemuk, bongsor, menderita diabetes melitus.

Nah, berlainan dengan era modern sekarang, kita cendrung memanjakan ke dua tungkai kita. Kaki tidak lagi banyak digunakan sebagaimana kodratnya, berdiri, melangkah, berlari. Sebaliknya, lebih banyak menjuntai di atas kursi, duduk di atas sofa, bersila di depan TV, atau duduk di mana pun saja sambil mata selalu menatap gadget, laptop, ipad, dan sebagainya, hanya jari jemari kita yang bergerak. Saking asyiknya dengan gadget itu, siapa yang ada di sekeliling kita pun bisa lupa. Kita hanya berkomunikasi dengan benda mati tak bernyawa itu. Di tengah-tengah kemacetan di kota-kota besar, sebagian besar waktu kita juga dihabiskan dengan duduk di belakang stir atau di atas sadel kendaraan roda dua.

Tidak hanya itu, di rumah, bagi yang punya pembantu, mau makan, ngopi, mau membelikan makanan di luar, tinggal memanggilnya. “Yu, Mbak, Mbok ambilkan sepatu saya”, ambikan ini-itu, ungkapan yang sering kita dengar di dalam rumah siapa saja.

Mau memasak, mencuci, membersihkan rumah, halaman rumah tinggal tunjuk. Karenanya sang pembantulah yang lebih banyak aktif mondar mandir, kian kemari di dalam rumah. Tuan dan nyonya rumah bahkan anak-anak mereka lebih menikmati duduk, atau tiduran. Bahkan, andaikan di dalam rumah ada kolam renang, sang pembantu lah yang lebih sering menceburkan dirinya ke dalam kolam itu…. Hhmm, tidak heran kalau kelihatannya yang banyak menderita diabetes melitus, obesitas, hipertensi, serangan jantung, stroke itu bukan para pembantu, tetapi para tuan rumah dan kemungkinan juga anak-anaknya

BACA JUGA:  Eksploitasi Pasien Yang Tidak Etis

Dan, juga, bila kita mau ke luar rumah, kebanyakan kita hanya berjalan sampai di pintu garase, kemudian naik mobil, motor atau kendaraan lain. Selama itu, bisa 1-2 jam atau bahkan lebih hanya duduk. Sampai di kantor juga tidak jauh berbeda, kebanyakan aktifitas dilakukan sambil duduk. Jadi petani pun saya lihat juga ada kecendrungan begitu. Disamping sebagian karena adanya mekanisasi pertanian, mau ke kebun, ke sawah naik kendaraan bermotor bukan lagi hal yang aneh.

BACA JUGA:  Presiden Tegaskan Imunisasi Hukumnya Mubah Dalam Islam

Lalu, memanjakan kaki, atau sering duduk ini bukan tanpa konsekuensi. Kita harus membayar mahal untuk kebiasaan santai yang menjadi gaya hidup kebanyakan kita sekarang. Meningkatnya kejadian, kematian karena penyakit kronis seperti diabetes, arthritis, hipertensi, stroke, serangan jantung dan bahkan beberapa keganasan berkaitan dengan kebiasaan ini.

Anak-Anak yang obes, dan penyakit diabetes melitus, hipertensi, serangan jantung, stroke yang dulu dianggap hanya penyakit orang tua, sekarang mulai banyak menyerang mereka yang masih sangat muda menurut teoritis salah satu penyebabnya adalah karena memanjakan ke dua tungkai ini.

Disamping itu, sebagai contoh, melonjaknya kasus diabetes tipe 2 di pulau Nauru di Pasifik menurut penelitian salah satu penyebabnya adalah karena ke dua tungkai penduduk di sana tidak lagi digunakan sebagaimana sebelumnya. Perubahan gaya hidup itu bermula ketika ditemukannya hasil tambang bauksit di sana. Pendapatan yang meningkat seiring dengan industrialisasi tambang ini, membuat mereka beralih menggunakan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi utamanya. Berjalan, sepeda sudah jarang mereka lakukan. Perubahan gaya hidup, malas melangkah dan mendayung sepeda inilah salah satu penyebab merebaknya obesitas, diabetes dan penyakit kardiovaskuler di sana.

Dalam suatu studi, ketika sekelompok lelaki yang sehat dikondisikan mengunakan kruk dan membiarkan tungkainya itu tanpa beban, dalam waktu tidak lama akan terjadi perubahan fisiologis pada otot-ototnya. Hanya 48 jam setelah itu, biopsi yang dilakukan pada otot itu, didapatkan perubahan, diantaranya melambatnya respon insulin, aktifitas metabolik, dan peningkatan stress oksidatif ( dikutip dari Tom Rath, Eat, Move, Sleep)

Otot tungkai yang mengecil karena tidak digunakan akibat fraktur, pemasangan gips misalnya. Sendi lutut yang kemudian kontraktur atau kaku karena tidak difungsikan sebagaimana mestinya adalah contoh sederhana lain bahwa malas melangkah itu berakibat buruk terhadap kesehatan kita.

Lalu, terkait dengan ini, secara sederhana kepada pasien, saya sering memberi contoh, bahwa tungkai, sendi, atau tubuh kita seperti engsel jendela yang jarang dibuka, engsel kemudian akan berkarat. Kalau engsel sudah berkarat, jendela akan sulit dibuka. Tubuh kita sebagai perumpamaan sederhana juga begitu, dan engsel itu adalah ke dua tungkai kita

Karena itu, jangan manjakan ke dua tungkai anda!


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Diabetes Mellitus: Apa Kaki Ibu Harus Diamputasi Dokter?

Diabetes Mellitus adalah penyebab utama kedua tindakan amputasi setelah kecelakaan.