Malaria: Terlambat Menangani, Kematian Risikonya

0
35
  • 3
    Shares
Malaria
Ilustrasi: Anak terserang Malaria.

SERUJI.CO.ID – Malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang sel darah merah. Penyakit ini bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu hamil. Selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih endemis di sebagian besar wilayah Indonesia.

Gejala–Gejala Malaria

Demam yang hilang timbul, pada saat demam suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. pada saat demam hilang disertai dengan menggigil, berkeringat, dan sakit kepala.

Proses Diagnosis Malaria

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala yang muncul yang sering disebut dengan Trias Malaria (panas –menggigil – berkeringat}. Dan pada pemeriksaan laboratorium ditemukan parasit Plasmodium pada apusan darahnya. Bisa juga menggunakan pemeriksaan laboratorium Rapid Diagnostic Test untuk malaria (RDT).

Klasifikasi Malaria

Ada lima jenis malaria, yaitu:

1. Malaria falsiparum, ditemukan Plasmodium falsiparum.
2. Malaria vivaks ditemukan Plasmodium vivax.
3. Malaria ovale, ditemukan Plasmodium ovale.
4. Malaria malariae, ditemukan Plasmodium malariae.
5. Malaria knowlesi, ditemukan Plasmodium knowlesi

Malaria Pada kehamilan

Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 82,6 juta bayi lahir dari ibu yang berisiko terkena malaria falciparum dan/atau malaria vivax, dan 54,4 juta diantaranya terjadi di daerah Asia-Pasifik. Ibu hamil dengan malaria mempunyai risiko terkena anemia, keguguran bahkan bisa meninggal.

Bayi yang dilahirkannya beresiko berat badan lahirnya rendah yang merupakan faktor risiko utama kematian bayi di daerah endemis malaria.

Untuk pencegahan pada ibu hamil yang akan pergi ke daerah endemis malaria, disarankan minum obat doksisiklin 100 mg sekali sehari . obat mulai diminum sejak 2 hari sebelum pergi hingga 4 minggu setelah keluar/pulang dari daerah endemis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU