Makan Bersama Keluarga di Rumah Lebih Sehat

SERUJI.CO.ID – Anda pernah bertanya atau menghitung berapa kali anda makan di rumah dalam sehari sekarang? Saya yakin sebagian besar kita tidak pernah melakukan itu. Mengapa? Karena kita sudah menganggap bahwa itu kegiatan rutin yang tidak perlu dipertanyakan. Atau barangkali kita menganggap untuk apa juga, mau makan di rumah, atau di luar, apa bedanya. Yang penting makan, dan makan di luar sebagian besar kita menganggap lebih enak

Nah, ternyata kebiasaan makan di rumah, tentu saja dengan makanan yang dimasak di dapur sendiri lebih sehat daripada makan di luar.

Kenapa begitu?

Jawabannya, dengan logika sederhana saja, bahwa makan di rumah, makanan yang kita olah sendiri, dari sumber bahan baku saja, sampai kepada bumbu-bumbu yang kita masukan; apakah itu garam, gula, penyedap, atau bumbu lain, kita tahu apa dan berapa yang kita gunakan. Kita juga tahu apakah sayur, daging, ikan, ayam yang diolah itu masih segar, sudah bersih atau sebaliknya, bahan-bahan yang sudah tidak layak lagi dikonsumsi


Lalu, bandingkan dengan makan di luar. Kita semua buta dengan apa yang disajikan di atas piring kita. Mulai dari bahan bakunya entah baru atau tidak, penyimpananya, proses membersihkannya, apalagi dalam mengolah dan bumbu-bumbu yang dimasukkan ke dalamnya.

Oh, barangkali itu tidak penting, mungkin ada yang berpikir seperti itu, yang penting enak. Nah, itu lah masalahnya, yang penting enak. Enak atau tidak enak menjadi faktor penting penentu pilihan mau makan apa dan di mana. Tapi tahu kah Anda bahwa enak tidak enaknya suatu makanan itu, disamping bahan dasarnya, mengolahnya, bumbu dasarnya, yang lebih menentukan itu sebenarnya adalah berapa banyak garam, gula, lemak, penyedap yang ada di dalamnya.

Kemudian, apa hubungannya dengan kesehatan anda, atau anda pernah berpikir bahwa makan di luar, akan mempengaruhi kesehatan Anda?

Jawabannya, ya, pasti ada, karena apa yang masuk ke dalam mulut kita akan menjadi penentu kesehatan kita. Karena kita tidak dapat mengontrolnya, mengendalikan dengan apa yang disajikan, kita juga tidak dapat mengendalikan apa yang masuk ke dalam mulut kita.

Dari empat bahan dasar bumbu yang membuat enaknya suatu makanan saja seperti garam, gula, lemak, penyedap, akan berpengaruh terhadap kesehatan Anda. Seperti diketahui, bahwa bahan-bahan ini bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dapat menjadi biang keladi atau paling tidak menjadi faktor risiko penyakit kronis degeneratif seperti hipertensi, diabetes mellitus, jantung, stroke, bahkan keganasan. Jadi, kalau Anda seorang penderita hipertensi, jantung, diabetes, ginjal, Anda harus ekstra hati-hati dengan kebiasaan makan di luar ini.

BACA JUGA:  Tips Diet untuk Anak Kost, Meski Tetap Makan di Warteg

Dan, disamping tidak dapat mengendalikan apa yang disajikan ke dalam piring kita, terutama waktu mengolahnya, jumlah yang disajikan juga begitu. Kita cendrung memilih porsi yang lebih besar apalagi dengan harga khusus yang kita anggap lebjh murah.

Sehubungan dengan ini, penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka yang sering memasak dan makan malam di rumah mengonsumsi lebih sedikit kalori dibandingkan dengan mereka yang kebanyakan makan di luar. Secara sederhana, makan di luar mendorong kita makan lebih banyak dan tidak terkontrol. Akibatnya, dapat menjadi salah satu faktor risiko penyebab kita jadi gemuk.

BACA JUGA:  Memasak Sendiri Itu Lebih Sehat

Kecendrungan makan di luar adalah mengonsumsi minuman mengandung soda, juis, minuman mengandung gula atau pemanis buatan lainnya. Penelitian memperlihatakan bahwa mengonsumsi minuman dengan kadar gula yang tinggi berhubugan kuat dengan peningkatan berat badan.

Selain itu, makan di luar mengurangi kesempatan keluarga makan bersama dalam satu meja di rumah. Makan bersama adalah kesempatan baik seluruh keluarga untuk bersosialisasi, bercengkrama, berinteraksi, dan kesempatan baik untuk memberi contoh makan yang sehat dalam keluarga.

Sehubungan dengan ini, saya pernah membaca penelitian bahwa makan di luar ada kecendrungan mengonsumsi sayuran dan buah-buahan lebih sedikit daripada makan di rumah. Dari aspek lain penelitian memperlihatkan bahwa anak-anak yang secara teratur makan bersama dengan orangtuanya di rumah akan mempunyai reputasi belajar lebih baik, hubungan yang lebih sehat, dan lebih jarang berbuat masalah. Lebih sedikit minum alkohol, meokok dan mengisap marijuana.

Makan malam bersama keluarga secara teratur mencegah wanita dari bulimia, anoreksia, dan minum obat-obat an untuk diet. Dan, seperti disinggung di atas makan di rumah mengurangi risiko anak obesitas.

Dan juga, makan di rumah, terutama bagi anak-anak yang masih sekolah, sarapan pagi adalah suatu keharusan. Sarapan pagi akan mencegah dan mengurangi anak-jajan diluar, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, tinggi kalori rendah nutrirsi seperti junk food yang akan meningkatkan risiko anak menjadi gemuk atau obes dengan segala akibatnya.

Karena itu, perbanyaklah makan bersama dengan keluarga di rumah, dapur anda harus sering berasap. Mudah-mudahan anda lebih sehat, hubungan keluarga juga semakin baik dan harmonis.

(Hrn)


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Diabetes Mellitus: Apa Kaki Ibu Harus Diamputasi Dokter?

Diabetes Mellitus adalah penyebab utama kedua tindakan amputasi setelah kecelakaan.