JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kesehatan mental Gen Z Indonesia sedang berada di titik yang mengkhawatirkan. Data terbaru dari berbagai lembaga riset nasional dan internasional menunjukkan bahwa generasi yang lahir antara 1997–2012 ini menanggung beban psikologis paling berat dibanding generasi mana pun sebelumnya.
Mereka tumbuh di era scrolling tak terbatas, pandemi yang mengisolasi, dan ketidakpastian ekonomi yang terus mengintai. Hasilnya? Sebuah generasi yang tampak terhubung secara digital, tapi banyak yang merasa sendirian secara emosional.
Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Laporan Jakpat yang dirilis akhir 2024 memberikan gambaran serius kondisi psikologis anak muda Indonesia. 61% Gen Z mengalami mood swings dalam enam bulan terakhir. Sebanyak 54% mengalami gangguan tidur, 38% mengalami kesulitan kontrol impuls, dan 37% mengalami kecemasan yang mengganggu aktivitas harian.
Data Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyebutkan bahwa kelompok usia 15–24 tahun, yakni Gen Z, memiliki prevalensi depresi tertinggi di Indonesia sebesar 2%. Meski angka ini terdengar kecil, Kemenkes menegaskan bahwa dari mereka yang mengalami depresi, hanya 10,4% yang mencari pengobatan.
Lebih jauh, Universitas Airlangga mencatat bahwa gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z meningkat hingga 200% dibandingkan generasi sebelumnya. Sementara survei Deloitte 2023 mengungkap fakta yang membuat geleng kepala: 91% Gen Z Indonesia mengalami stres kerja.
| Indikator | Persentase | Sumber |
|---|---|---|
| Gen Z alami mood swings | 61% | Jakpat 2024 |
| Gen Z alami gangguan tidur | 54% | Jakpat 2024 |
| Gen Z alami kecemasan | 37% | Jakpat 2024 |
| Gen Z stres kerja di Indonesia | 91% | Deloitte 2023 |
| Hanya mencari pengobatan | 10,4% | Kemenkes RI 2023 |
| Peningkatan gangguan mental Gen Z | +200% | Unair / Kemenkes |
Dua Penyebab Utama Menurut Psikiater
Spesialis kedokteran jiwa dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menegaskan bahwa ada dua faktor penyebab utama gangguan jiwa pada Gen Z. Pertama, kapasitas mental yang kurang baik, yaitu kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan emosional dan psikologis. Kedua, tingkat stressor yang tinggi, berasal dari beragam tekanan psikososial seperti beban akademik, hubungan sosial, hingga tuntutan karier.
Teknologi informasi menjadi faktor penguat. Media sosial mendorong Gen Z membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus, menimbulkan perasaan tidak sepadan yang berujung pada insecurity kronis.
Sementara itu, survei Indonesia-National Adolescent tahun 2022 menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan sebagai yang paling umum tanpa memandang jenis kelamin maupun usia.
