Duduk Banyak, Diabetes-pun Melonjak

SERUJI.CO.ID – Tulisan ini berawal dari beberapa pertanyaan keluarga pasien waktu mendampingi saudaranya atau orang tuanya yang konsultasi karena diabetes melitus. Sebut saja saudari M, seorang mahasiswi yang agak penasaran ketika orang tuanya saya beritahu menderita diabetes.

“Kok bisa ya dok, Ibu saya menderita diabetes, padahal kelihatannya tidak ada keluarga kami yang menderita penyakit itu. Kata orang penyakit diabetes ini disebabkan oleh faktor genetik. Dan, saya lihat tidak hanya Ibuk saya yang menderita diabetes. Di kampung saya saja setahu saya ada beberapa pasien diabetes ini. Tetangga saya sekarang sudah menjalani cuci darah, katanya karena diabetes. Beberapa hari lalu bahkan ada yang meninggal setelah dirawat karena komplikasi diabetes, apa sebabnya dokter?” ….., ungkap pasien suatu sore.

Tidak hanya keluarga pasien yang sering mempertanyakan hal itu, perawat saya di bangsal juga pernah menyatakan hal yang sama. Ini bermula suatu waktu, ketika melihat sebagian besar pasien baru yang diopname adalah penderita diabetes melitus tipe 2 dengan bermacam komplikasi. “Kenapa dokter, banyak sekali pasien diabetes sekarang, kelihatannya banyak perempuan lagi. Rasanya dulu-dulu tidak seperti ini”, komentar seorang perawat senior seperti bertanya waktu visite.

Nah, sehubungan dengan itu, dalam beberapa dekade terakhir ini memang terjadi peningkatan kasus diabetes, khususnya diabetes melitus tipe 2. Di Indonesia sekitar 5% dari penduduk usia di atas 15 tahun diperkirakan menderita diabetes. Di Amerika Serikat mencapai 10 % populasinya. Pada tahun 1985 diperkirakan jumlah penderita diabetes di seluruh dunia sekitar 30 juta, pada tahun 2011, 366 juta, dan pada tahun tahun 2030, 552 penduduk dunia akan hidup dengan diabetes.


Lalu, sesuai dengan pertanyaan keluarga pasien, dan perawat di atas, mengapa kasus diabetes meningkat sekarang?… Para ahli memberikan alasan, bahwa ini semua terkait dengan perubahan gaya hidup dan pola makan kita. Gaya hidup santai — aktivitas fisik yang kurang, banyak duduk, terutama di depan TV — makan yang lebih banyak, makan yang tidak sehat adalah beberapa faktor resiko penting prnyebab melonjaknya kasus diabetes ini.

Ya, dokter, Ibu saya seharian, kalau tidak tidur, duduk-duduk di depan TV, bisa berjam-jam di sana, bahkan sampai ketiduran, sambil nonton TV ngemil lagi dokter. Dan, bila ke luar selalu naik motor atau naik becak, cerita anak pasien waktu saya beritahu bahwa melonjaknya penyakit diabetes salah satu penyebab atau faktor risiko utama adalah karena gaya hidup santai, kurang bergerak dan banyak duduk.

Banyak duduk seperti yang dialami oleh orang tua pasien di atas, adalah fenomena umum yang banyak kita lihat di era modern sekarang. Rata-rata orang dewasa di Amerika Serikat, duduk di depan TV selama 5 jam setiap harinya. Di Indonesia, rasanya belum ada penelitian tentang itu. Tetapi, dari pengalaman sehari-hari, terutama Ibu rumah tangga di perkotaan, para pensiunan, barangkali lebih dari itu. Saya ingat dengan Ibu kost saya duku, dan tetangga saya yang sebagian waktunya adalah duduk di depan TV. Dalam usia relatif belum tua, beliau sudah meninggal karena komplikasi diabetes.

Dan, duduk ternyata bukan hanya aktifitas santai yang paling sering kita lakukan pada waktu senggang. Dalam perjalanan ke tempat kerja, di atas kendaraan bermotor, dan ketika berkerja di kantorpun banyak yang melakukan aktivitasnya sambil duduk. Kalau Anda berkerja di Jakarta misalnya, 1-3 jam waktu Anda habis di perjalanan, sampai di kantor 6-8 jam juga dilakukan di atas kursi. Pulang dari kantor juga melakukan hal yang sama, di perjalanan dan di rumah kembali tetap duduk.

Ternyata, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas duduk ini tanpa kita sadari mempunyai efek buruk terhadap kesehatan kita. Duduk yang lama di depan TV misalnya, meningkatakan resiko penyakit kronis dan kematian. Peningkatan kejadian diabetes tipe 2 sekarang menurut para ahli juga ada kaitannya dengan kebiasaan gaya hidup santai, duduk ini. Metabolisme yang menurun, gangguan metabolisme glukosa, resistensi insuline, sensitivitas sel otot yang menurun, dislipidemi — kolesterol baik turun, kolesterol jahat meningkat, trigliserida tinggi –, hipertensi, dan obesitas adalah beberapa akibat langsung kebiasaan duduk yang lama, yang kemudian meningkatkan resiko seseorang menderita diabetes melitus.

Aktifitas santai, duduk (terutama di depan TV) juga dikaitkan dengan masukan kalori yang tinggi dan kebisaan mengemil, bisanya cemilannya juga tidak sehat. Coba saja lihat, apa yang ada di meja kita waktu duduk baik depan TV atau pun di tempat kerja, jarang ada buah-buahan di sana….. Cerita pasien saya seorang penyandang diabetes, kalau saya sudah duduk, satu piring gorengan, kerupuk, kue akan habis tanpa disadari, dokter!…. Nah, semua ini merupakan faktor resiko penting diabetes tipe 2.

Jadi, selain tidur, duduk merupakan aktivitas santai yang paling banyak dilakukan di dunia modern sekarang . Melalui mekanisme perubahan kimiawi dan fisik, gaya hidup ini meningkatkan resiko kejadian diabetes. Karena itu, sering-seringlah beranjak dari kursi anda.

(Hrn)


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.