Berobat ke Dokter Tidak Harus Dapat Resep

SERUJI.CO.ID – Sebut saja Tn B, laki-laki, usia 45 tahun, seorang pegawai negeri yang tinggal cukup jauh di luar kota. Suatu ketika dia datang konsultasi ke tempat praktek saya dengan keluhan sakit kepala dan agak kaku pada tengkuknya. Pasien juga mengeluh sering merasa lemah, tidak bersemangat, dan sulit tidur

Anamnesis juga menunjukkan bahwa pasien jarang olahraga, ke sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggal saja menggunakan kendaraan. Sampai di rumah, setelah pulang mengajar banyak duduk terutama nonton TV dan itu dilakukan sambil mengkonsumsi makanan ringan, terutama goreng-gorengan, dan merokok.

Pada pemeriksaan fisik, pasien terlihat obes, lingkaran perutnya kelihatan besar sekali, waktu berbaring perutnya jauh lebih tinggi dari dadanya. Tekanan darah pasien 145/100 mmHg, denyut nadi normal, pemerksaan fisik lain normal.

Hasil laboratorium gula darah sewaktu sedikit di atas 200 mg/dl, HDL kurang dari 40 mg/dl, Dan trigliserida 250 mg/dl. Laboratorium lain tidak ada masalah

Loading...

Lalu, melihat hasil pemerksaan pasien, sesuai teoritis sebenarnya dia tidak memerlukan obat. Obat yang harus ditebus di apotik dengan sebuah resep. Tapi, ketika saya beritahu bahwa dia tidak memerlukan obat, cukup dengan diet yang lebih sehat, olahraga, menurunkan berat badan, berhenti merokok, pasien seperti tidak pecaya.

“Masak Dokter, tekanan darah saya tinggi, lemak darah juga tinggi, dan kepala saya kadang-kadang sakit, dan biasanya saya dapat obat dari dokter,” ungkap pasien.

Seperti pasien di atas, banyak pasien lain punya anggapan yang sama, kalau ke dokter harus dapat resep dan obat. Obat dalam bentuk pil, kapsul, cairan, injeksi atau yang lain seolah-olah sebagai pilihan pertama kalau mereka sakit. Terlalu mudah bagi sebagian kita menjadikan obat untuk menghilangkan keluhan-keluhan yang kita rasakan.

Kalau konsultasi ke dokter, lalu tidak mendapatkan resep, obat, pasien sering tidak puas. Bahkan masih banyak yang beranggapan injeksi itu suatu keharusan, kalau tidak diinjeksi berarti tidak berobat. Saya sering ketemu dengan pasien begitu, tidak saya injeksi, tidak dapat resep, pasien pergi begitu saja, dan jasapun dianggap tidak ada.
.
Di tengah-tengah masyarakat juga tumbuh subur kebiasaan seperti itu, memilih obat untuk setiap keluhan yang dirasakan. Tidak heran obat-obat yang siftatnya hanya menghilangkan gejala seperti sakit kepala, pegal linu, nyeri sendi, gangguan pencernaan, tidak ada nafsu makan laris bukan main. Dan, tidak heran pula, banyak kemudian pengguna obat tanpa terkontrol ini mengalami bermacam komplikasi, seperti gangguan hati, ginjal, pencernaan, kulit, dan bahkan penyakit kardiovaskuler, diabetes dan lain-lain.

Kemudian, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung dan sebagainya dalam batas, tahap tertentu tidak harus menggunakan obat-obatan. Pada pasien di atas, pasien diabetes melitus yang obes dan gula darahnya belum dianggap tinggi untuk mendapatkan obat-obatan, maka diet, olahraga, dan menurunkan berat badan adalah langkah awal yang lebih tepat untuk pasien.

Jadi, pasien tidak harus langsung mendapatkan obat-obatan. Menangani, memperkecil faktor resiko yang menyebabkan pasien kemudian jatuh sakit adalah lebih utama, kecuali pada keadaan yang gawat, dan yang tidak terkontrol dengan modifikasi gaya hidup, faktor resiko.

Dan, perlu juga diingat bahwa untuk solusi jangka panjang, obat-obatan tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Sebagai contoh sederhana, kalau kepala atau tengkuk kita sesekali sakit, biasanya tidak ada masalah yang serius, bisa saja hanya masalah otot di tengkuk atau pundak. Untuk menghilangkannya dengan sedikit memijet otot-otot sekitar itu atau anda olahraga, keluhan itu akan hilang. Jadi anda tidak harus makan obat sakit kepala. Kecuali kalau sakit kepala yang berulang disertai gejala lain yang berat, mengetahui penyebabnya adalah pilihan terbaik.

Jangan jadikan obat sebagai jalan pintas

Lalu, seperti diketahui, gaya hidup santai, aktifitas fisik yang kurang, obesitas, merokok, diet yang tidak sehat, stress, alkohol adalah faktor resiko penting beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab utama kesakitan, kematian kita sekarang.

Mengendalikan faktor resiko itu adalah pilihan pertama dalam mengelola pasien-pasien penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes melitus dan sebagainya. Penelitian menunjukkan bahwa dengan olahraga seperti jalan kaki 30 menit setiap hari dapat menurunkan tekana sistolik 11 mm/Hg dan diastolic 8 mm/Hg. Penurunan tekanan darah ini dapat mengurangi resiko stroke 25%.

Penderita prediabetes yang berolahraga secara teratur, berat badan berkurang 5-7% dari berat badan awal, resikonya menderita diabetes juga berkurang bermakna. Bahkan, penderita diabetes tipe 2 yang obes, yang didiagnosis dini, dengan diet yang tepat, olahraga teratur, penurunan berat badan, berhenti merokok, maka tidak mustahil gula darahnya dapat terkontrol dengan baik tanpa obat-obatan.

Jadi, konsultasi, berobat ke dokter, Anda tidak harus mendapatkan resep. Rekomendasi diet yang sehat, aktifitas fisik yang cukup, olahraga, penurunan berat badan, berhenti merokok, tidak minum alkohol, tidur yang cukup misalnya adalah bagian dari modifikasi gaya hidup yang penting dalam menangani beberapa penyakit tertentu.

Bahkan gaya hidup yang sehat ini pada keadaan tertentu lebih bermanfaat daripada obat. Dan, obat-obatan belum tentu merupakan pilihan pertama yang harus dikonsumsi.


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.
loading...
Irsyal Rusad
Dokter spesialis penyakit dalam
Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Tips Mengurangi Risiko Anak Menderita Diabetes

SERUJI.CO.ID - Suatu hari di ruang praktek saya, seorang Ibu menyampaikan ke khawatirannya. “Saya khawatir...

Inilah Sebabnya Kenapa Olahraga Bisa Membuat Awet Muda

SERUJI.CO.ID - Saya pernah beberapa bulan tinggal di sebuah apartement di Halifax, Nova Scotia, Canada....

Muda di Luar Tua di Dalam, Apa Gunanya?

SERUJI.CO.ID - Di suatu mall, pernah saya lihat seorang ibu sedang berjalan dibimbing oleh dua...

Nelson Mandela Akhirnya Takluk oleh Pneumonia

SERUJI.CO.ID - Nelson Mandela, Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, beberapa tahun yang lalu meninggal...

TERPOPULER

close