Jaringan Al Jazeera Alami Serangan Siber Skala Besar

2
188
Al Jazeera
Al Jazeera Media Network. (Foto: Spencer Platt/Getty Images)

DOHA – Jaringan kantor berita Al-Jazeera, mengaku mendapatkan serangan besar-besaran dari peretas (hacker) yang menyasar seluruh platform yang mereka miliki.

“Al Jazeera Media Network mengalami peretasan pada semua platform yang ada, mulai dari situs web dan platform media sosial,” demikian pernyataan resmi jaringan itu melalui akun Twitter mereka, Kamis (8/6).

Loading...

Setelah pengumuman tersebut, muncul pernyataan baru yang mengungkapkan bahwa Al-Jazeera mengalami serangan menyusul peningkatan peretasan yang menyasar jaringan mereka selama dua pekan terakhir.

“Tim kami telah bekerja keras untuk memastikan semua pengguna kami terlindungi dan sistem beroperasi dengan normal,” tulis akun @AJENews.

Setelah laporan awal serangan peretasan, beberapa pemirsa di wilayah tersebut mengaku tidak dapat lagi menerima siaran televisi Al-Jazeera.

Serangan tersebut merupakan yang ketiga kali dalam 14 bulan terakhir.

“Ada upaya yang dilakukan untuk meretas sistem keamanan siber Al Jazeera, tapi kami berhasil mengagalkan upaya mereka, dan saat ini semua entitas kami tetap beroperasi,” kata seorang karyawan senior yang enggan disebut namanya kepada wartawan, dilansir dari Reuters (9/6).

Menurut pantauan SERUJI pada Jumat dini hari, kanal Al Jazeera baik yang berbahasa Arab maupun Inggris bisa diakses dengan baik.

Al Jazeera adalah adalah salah satu organisasi berita terbesar di dunia yang berasal dari Qatar, negara yang saat ini mengalami pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Arab lainnya karena dituduh mendukung terorisme.

Al-Jazeera telah lama dituding sebagai sumber konflik antara Qatar dan negara tetangganya. Media ini dituding melakukan pemberitaan bias dan menimbulkan masalah di wilayah tersebut.

Qatar sebelumnya mengatakan kantor beritanya diretas oleh pihak yang tidak dikenal sehingga menyebarkan informasi yang salah. Akibat dugaan peretasan itu, muncul berita palsu pernyataan Emir Qatar mengenai dukungan negaranya terhadap Iran dan kelompok Hamas Palestina.

Pernyataan itu menuai kontroversi bagi negara-negara Teluk lain yang menganggap Iran sebagai musuh bebuyutan.

Puncak ketegangan terjadi ketika Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain dan sekutu lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada pekan ini. Alasannya, dalih adanya pendanaan Doha terhadap kelompok ekstremis dan hubungan dengan Iran.

Awal bulan ini, Qatar mengatakan Biro Penyelidikan Federal (FBI) membantu menyelidiki sumber dugaan peretasan tersebut. (IwanY)

loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU