JALUR GAZA – Lembaga HAM Eropa, Euro-Med Observatory, Selasa (27/6), memperingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza yang sangat mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya, krisis kemanusiaan sangat kompleks sehingga mengancam nyawa warga sipil dan tingkat pemberian layanan pokok yang diberikan kepada lebih dari dua juta manusian di Jalur Gaza yang diblokade sejak 11 tahun, seperti dikutip pada The Palestinian Information Center.
Euro-Med Observatory, yang barkantor di Jenewa, dalam memo pembaruan sikap terhadap situasi di Jalur Gaza, memperingatkan bahwa penduduk Jalur Gaza mengalami satu krisis terbesar yang sangat berat sejak dimulai pemberlakuan blokade atas Jalur Gaza sejak tahun 2006, yang mengancam semua sektor vital runtuh dan belum pernah terjadi sebelumnya, situasi ini mengancam bahaya jangka panjang.
Kompleksitas yang terjadi pada krisis-krisis di Jalur Gaza adalah akibat pengetatan pembatasan Israel terhadap lalu lintas perlintasan bisnis dan terus berlanjutnya penutupan dua perlintasan satu-satunya untuk penduduk Jalur Gaza (yaitu perlintasan Bet Hanun dan Rafah).
Selain krisis listrik yang mencekik selama berbulan-bulan terakhir, juga terjadi krisis-krisis berikutnya seperti pemotongan gaji pegawai Otoritas Palestina, menjadi realitas bagi ratusan ribu penduduk yang hidupnya bergantung kepada bantuan kemanusiaan. Ini yang menghancurkan sektor ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di sektor kesehatan, Euro-Med Observatory menyoroti paroh pertama tahun 2017, mengalami kemerosotan signifikan. Berbagai rumah sakit di Jalur Gaza mengalami banyak kekurangan obat-obatan dan peralatan medis utama akibat penutupan berkelanjutan perlintasan utama Jalur Gaza.
Lebih 33% obat-obatan pokok kehabisan stok dan 70% ruang ICU dan layanan yang diberikan untuk pasien kanker terhenti total. Sebesar 40% peralatan medis tidak tersedia.
Berbagai rumah sakit di Jalur Gaza sangat kekurangan tenaga medis spesialis. Saat ini dibutuhkan sekitar 800 pegawai baru disamping yang sudah ada, yang sebagian besar tidak bisa ke luar negeri untuk mengikuti program pelatihan spesialiasi tertentu. Hal ini semakin menambah beban berat rumah sakit di Jalur Gaza. Sehingga ribuan pasien harus menunggu sampai 18 bulan untuk bisa menjalani operasi, sementara untuk dirujuk ke luar tidak bisa karena perlintasan ditutup.
Setiap bulan ada lebih 1000 pasien setiap bulan harus dirujuk ke luar. Sementara Otoritas Zionis Israel menolak 50% rujukan medis ke luar Gaza. Sehingga sampai saat ini ada 20.000 pasien dalam daftar tunggu untuk bisa berobat di luar. Demikian menurut Biro PBB untuk Urusan Kemanusiaan di Palestina (OCHA).
Otoritas Palestina juga menolak memberikan rujukan pasien untuk berobat ke luar Jalur Gaza, sehingga sejak awal 2017, sudah 9 pasien meninggal akibat kebijakan ini, tiga di antaranya adalah bayi.
Sementara di sektor ekonomi semakin buruk sejak blokade diberlakukan terhadap Jalur Gaza. Bahkan dua tahun terakhir adalah paling buruk di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dan ini sangat berdampak pada penduduk Jalur Gaza.
Selama bulan-bulan awal tahun 2017, tingkat pengangguran di Jalur Gaza mencapai 43,2%. Tingkat kemiskinan sekitar 38,8%. Setelah Otoritas Palestina memotong 30% gaji pegawai, sebagian besar penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka dan semakin menambah jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.
Kondisi ekonomi yang buruk ini diperparah dengan pembatasan yang makin diperketat oleh Otoritas penjajah Zionis di perlintasan, sehingga memutus pasokan bantuan kemanusiaan bagi ribuan penduduk di Jalur Gaza. Hal ini semakin diperparah dengan krisis listrik yang diakibatkan oleh pembatasan pasokan BBM ke Jalur Gaza. Bahkan listrik yang masuk ke rumah warga hanya tinggal 2-3 jam saja dalam sehari semalam. (JarotS/IwanY)

Semoga Allah mudahkan sdr-2 kita di gaza dan kuatkan mrka.