The Kingdom of Death and Madness (Understanding Aleppo-Final Part)

1
43

Jakarta, Seruji.com– Hafez al-Assad adalah seorang totalitarian. Selama 30 tahun berkuasa, dia memastikan musuh-musuh potensialnya atau pun pihak oposisi terpecah belah, agar tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan kudeta. Laporan dari Human Rights Watch, berjudul Syria Unmasked membuat kita bergidik, melihat kekejaman dan kebrutalan rezim Assad.

Berikut catatannya:

Deir al-Zor, 15 April 1980

Sekelompok remaja berdemonstrasi di markas lokal Partai Baath, yang berujung dengan kebakaran di markas tersebut. Polisi menangkap 38 remaja tanggung di timur kota Deir al-Zor. Tidak ada satu pun dari kelompok remaja tadi yang dituntut, namun mereka menghilang begitu saja dari penjara lokal. Sampai hari ini, orangtua mereka tidak pernah tahu nasib anak-anaknya

Penjara Tadmur, 27 Juni 1980

Ketika sekelompok pejuang Islam dituduh bertanggungjawab terhadap upaya pembunuhan Hafez al-Assad, tentara pemerintah dibawah komando Rifaat al-Assad, menyerbu penjara Tadmur, menembak membabi buta ke dalam sel-sel penjara. Lebih dari 1.000 orang tawanan meninggal seketika

Sarmada, 25 Juli, 1980

Untuk alasan yang tidak jelas hingga saat ini, sekelompok tentara mengepung ratusan penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak, di sebuah desa di utara Sarmada. Mereka diintimidasi, dinterogasi dan dipukuli. Sebanyak 40 penduduk desa menghilang atau pun dibunuh

Hama, 1981

Setelah penyerangan terhadap pos pemeriksaan pemerintah di luar kota Hama, Assad menginstruksikan sekelompok tentara mengisolir kota Hama dan melakukan pencarian dari rumah ke rumah. Tanpa melakukan konfirmasi identitas yang sesuai prosedur, ratusan pria dan anak laki-laki diseret keluar dari rumahnya dan ditembaki. Minimal 350 penduduk sipil, dewasa dan anak-anak meninggal dunia

Hama, 2 Februari sd 5 Maret 1982

Saat komando pemerintah memasuki kota Hama untuk menangkapi tokoh oposisi, para pejuang Islam bertahan, membuat barikade di kota tua Hama, menyerang balik dan menyebabkan 100 orang dari pihak Rezim Assad serta partai pendukungnya tewas. Pemerintah Assad membalas dendam dengan membombardir seisi kota. Tentara datang bak air bah dan mengeksekusi penduduk kota tanpa pandang bulu. Jumlah korban yang syahid antara 5.000-10.000 orang, termasuk orangtua, wanita dan anak-anak

Nasib berkata lain, kakak kandung Bashar al-Assad yang sedianya dipersiapkan untuk melanjutkan rezim al-Assad meninggal dalam kecelakaan tragis. Bashar al-Assad, seorang dokter spesialis mata, yang menempuh pendidikan lanjutan di Eropa, bahkan beristrikan seorang wanita berkewarganegaraan Inggris ‘terpaksa’ mewarisi tampuk kekuasaan di Republik Suriah, sebuah negara dengan sejarah panjang perebutan kekuasaan, pemberontakan dan pembantaian yang penuh intrik dan darah.

Dalam pidato inaugurasinya pada tanggal 17 Juli tahun 2000, Bashar al-Assad bicara mengenai pentingnya berpikir kreatif, kebutuhan akan kritik yang membangun, transparansi dan demokrasi. Mendengar pidato Bashar, seakan-akan melihat mimpi buruk pemerintahan rezim Hafez al-Assad berakhir, suatu era baru dimulai…

Orang-orang berharap banyak pada Bashar, untuk membawa Suriah menjadi lebih baik dan manusiawi. Optimisme mulai timbul saat Bashar al-Assad mengambil langkah-langkah yang signifikan yaitu: menutup Penjara Mazzeh pada bulan November tahun 2000, yang selama ini menampung tawanan politik, serta memindahkan sebanyak 500 tawanan politik dari Penjara Tadmur yang berlokasi di gurun bagian timur Suriah ke Penjara Sednaya di utara Damaskus, yang dianggap memiliki fasilitas lebih baik dan manusiawi.

Walaupun Bashar al-Assad tidak pernah menjelaskan alasannya, para pengamat dan aktivis kemanusiaan di Suriah menanggapi positif pemindahan tawanan politik dari penjara Tadmur, mengingat sejarah penjara Tadmur yang penuh dengan pelanggaran masif terhadap hak azasi manusia, penyiksaan dan eksekusi tanpa pembuktian kesalahan. Pembantaian  sebanyak 1.000 lebih tawanan politik oleh unit Komando di bawah pimpinan Rifaat al-Assad, saudara kandung Hafez al-Assad  pada bulan Juni 1980 juga terjadi di Tadmur. Begitu mengerikannya penjara Tadmur, sehingga seorang penyair Suriah, Faraj Beraqdar, mantan tawanan Tadmur, menggambarkan kondisi penjara tersebut sebagai suatu kerajaan yang beraroma kematian dan kegilaan – a Kingdom of Death and Madness…

Kenyataan berkata lain, penutupan penjara Tadmur yang dianggap merupakan langkah awal yang positif ternyata tidak berarti apa-apa. Bashar al-Assad yang masih ‘hijau’dalam berpolitik, seakan-akan memainkan peranannya persis mengikuti aturan main ayahnya, sang Diktator, Hafez al-Assad.

Praktek memecah belah, intimidasi, penyiksaan, interogasi, pembunuhan lawan politik terus berlanjut, bahkan semakin masif, seakan-akan Bashar bersaing dengan ayahnya dalam hal kekejaman dan kegilaan.

Sebagai contoh, pada bulan Agustus 2008, tentara keamanan Suriah menangkap 13 anak muda di distrik Deir al-Zor karena diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok milisi Islam. Hingga hari ini, pemerintah Suriah tidak pernah membuka di mana lokasi penahanan anak-anak muda tadi, kenapa mereka ditangkap, apakah mereka akan diadili… Pada tanggal 10 Januari 2009, jenazah Muhammad Amin al-Shawa, salah seorang tahanan tadi, dikembalikan ke pihak keluarga, namun keluarga tidak diperbolehkan untuk melihat kondisi jenazahnya.

Maret 2011, sekelompok remaja menuliskan grafiti di dinding kota Daraá: “Sebentar lagi giliran Anda, Dokter!” Grafiti tersebut ditujukan kepada Bashar al-Assad, seorang dokter spesialis mata yang menjadi Presiden Suriah menggantikan sang diktator, Hafez al-Assad. Remaja-remaja tersebut terpengaruh berita mengenai rangkaian revolusi yang terjadi di negara-negara Arab atau ‘Arab Spring’. Selanjutnya sekelompok remaja ditangkap aparat intelijen lokal, disiksa sampai mengaku, walau pun mereka bukanlah pelaku atau penulis grafiti.

Dalam kurun waktu dua minggu setelah penangkapan dan penyiksaan kelompok remaja tadi, gelombang protes terjadi di kota Daraá berpusat di Masjid Umari, Masjid terbesar kota Daraá. Gelombang demonstrasi dan protes terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada tanggal 29 April 2011. Aparat bersenjata menyerang para demonstran dan menangkap 51 orang, termasuk bocah laki-laki berusia 13 tahun, bernama Hamzah al-Khatib. Permintaan orangtua Hamzah untuk melepaskan anaknya ditolak mentah-mentah oleh aparat.

Hamzah al-Khatib tinggal dengan orangtuanya di desa al-Jeezah, distrik Daraá. Seorang anak yang dikenal dermawan. Sepupunya bercerita,”Hamzah sering bersedekah ke orang miskin. Pernah suatu ketika dia ingin memberikan uang 100 Syrian Pounds namun dicegah oleh keluarganya, karena dianggap terlalu banyak.” Namun Hamzah menjawab,”Aku punya tempat tidur untuk beristirahat dan makanan jika aku lapar, sementara orang miskin ini tidak punya apa-apa.” Akhirnya orangtua Hamzah luluh dan memberikan uang tadi kepada si fakir.

Pada tanggal 25 Mei 2011, jenazah Hamzah yang penuh bekas siksaan, termasuk luka bakar di sekujur tubuh, bekas sundutan rokok dan kejut listrik, bekas cambukan, tiga luka tembak serta area genital yang dimutilasi, dikembalikan ke orangtuanya. Kematian Hamzah al-Khatib memicu gelombang protes yang jauh lebih besar. Rakyat Suriah marah dan menuntut keadilan. Sebuah halaman facebook yang menghormati kenangan tentang Hamzah mencapai 105.000 follower dalam waktu singkat. Tanggal 31 Mei 2011 tercatat sebagai titik balik dalam sejarah Suriah. Unjuk rasa besar-besaran ditanggapi Rezim Bashar al-Assad secara represif. Kota Daraá dikepung oleh kekuatan militer dan intelijen. Selama tiga minggu pertama, warga kota tidak mendapat akses listrik mau pun air minum. Sholat Jumát ditiadakan di seluruh kota. Cara-cara keji dan metode yang persis sama pernah digunakan ayah Bashar, Hafez al-Assad saat meneror warga kota Hama pada tahun 1982.

Warga kota-kota lainnya seperti Hama, Homs, Deir al-Zor, Idlib dan Aleppo turun ke jalan setelah sholat Jumát, menuntut perubahan dan keadilan. Semakin banyak yang berdemonstrasi, semakin banyak rakyat sipil yang ditangkap, disiksa dan dibunuh. Lama kelamaan, rakyat sipil yang tak berdaya semakin merasa terancam dan ketakutan, sehingga mulai mempersenjatai diri. Bola salju kekerasan, perang dan pembantaian terus bergulir, skalanya semakin lama semakin besar dan tak bisa dikendalikan lagi.

Krisis kemanusiaan yang berawal dari bentrokan rakyat yang mayoritas Muslim Sunni dengan rezim minoritas Syiah Alawite menjadi semakin tajam dan meruncing, diperkeruh dengan keterlibatan Iran dengan milisi-milisi Syiahnya, antara lain Hezbullah. Fakta-fakta keterlibatan Syiah Iran, antara lain:

  1. Tahun 2012, seorang wartawan Turki, Adem Ozkose, beserta juru kameranya ditawan oleh rezim Assad selama 2,5 bulan di kota Idlib. Setelah diplomasi kemanusiaan ke Teheran, Adem berhasil dibebaskan dengan bayaran dibebaskannya 18 orang milisi Iran yang ditawan oleh pejuang muslim Suriah.
  1. Januari 2013 di Latakia, sebanyak 48 orang milisi Iran yang ditawan pejuang Suriah dibebaskan, bertukar dengan 2.130 orang warga Suriah. Saat tiba di bandara Teheran, ke-48 orang tadi disambut oleh keluarganya sebagai pahlawan. Mereka ternyata adalah anggota militer Iran, yang ditugaskan melawan pejuang Musim Sunni Suriah.
  1. Februari 2015, terjadi pertempuran hebat di Aleppo antara pejuang Suriah melawan rezim Assad. Banyak korban tewas dari pihak rezim Assad. Setelah diidentifikasi, ternyata sebagian dari korban tadi adalah tentara Syiah Iran (IRGC), milisi Syiah Lebanon (Hezbullah), dan tentara bayaran dari etnis Syiah Hazara, Afganistan.
  1. Maret 2015, Iran mengadakan upacara peringatan mengenang 7 orang tentara Afganistan yang tewas saat bertugas di Suriah, di antaranya adalah Alireza Tavassoli, seorang komandan pasukan Afganistan. Pada bulan Mei 2014, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Iran merekrut para pengungsi Afganistan untuk menjadi tentara bayaran di Suriah dengan kompensasi sebesar 500 USD/bulan dan izin tinggal di Iran.

Apakah benar kalau Suriah merupakan pendukung utama Jihad Palestina? → Baca postingan sebelumnya (Like Father Like Son – Understanding Aleppo Part 1)

Faktanya, selama lebih dari 40 tahun kekuasaan Partai Baath (Pendukung Utama Rezim al-Assad) di Suriah, tidak sebutir peluru pun pernah ditembakkan ke arah Israel. Hafez al-Assad berdiam diri saat Perang Arab-Israel tahun 1967, yang menyebabkan Dataran Tinggi Golan jatuh ke tangan Israel. Bulan September 2013 saat jet-jet tempur Israel membombardir pusat riset pertahanan Suriah, rezim Bashar al-Assad juga tidak bergeming. Sikap yang bertolak belakang ditunjukkan rezim ini saat menghadapi demonstran, yang notabene adalah rakyatnya sendiri. Aparat militer rezim Bashar al-Assad tidak segan-segan menggunakan cara-cara kejam, brutal dan tidak berperikemanusiaan saat berhadapan dengan rakyat Suriah, yang mayoritas Sunni.

 

Kisah Aleppo

Aleppo, merupakan salah satu kota tertua di dunia yang masih dihuni manusia hingga hari ini. Sejarah Aleppo (Halab dalam bahasa Arab) membentang sejak 5000 tahun SM. Aleppo saat ini adalah ibukota propinsi paling utara di Suriah, berbatasan dengan Turki.

Sejak tahun 2011, Rezim Bashar al-Assad terus melancarkan terror kepada warga negaranya. Banyak wilayah Suriah yang kemudian tepecah dua, termasuk Aleppo yang terbagi pada bulan November 2012. Aleppo Utara berhasil dibebaskan pejuang Suriah dari rezim Assad, namun dengan risiko teror dan embargo oleh militer Suriah. Cara-cara lama kembali digunakan, arus listrik diputus, pasokan air minum dihentikan, jalan-jalan diblokade, berbarengan dengan serangan pesawat tempur militer dan pengeboman tanpa henti terhadap fasilitas umum dan pemukiman penduduk.

Warga Aleppo beserta para pejuang Islam Suriah tetap bertahan. Mereka bahkan membentuk Mahkamah Syariah yang mengatur tata tertib kehidupan dan kebutuhan masyarakat, termasuk distribusi makanan, penyelesaian sengketa, pendataan penduduk, masalah kebersihan, juga distribusi air minum dan lain-lain. Dengan izin Allah, pada akhir musim panas 2015, sebagian besar kota Aleppo berhasil dibebaskan pejuang Islam Suriah.

Pada bulan Februari 2016, rezim Assad bersama dengan angkatan udara Rusia dan Milisi Syiah Iran, Lebanon dan Afganistan kembali menggempur Aleppo habis-habisan yang berakibat pada eksodus besar-besaran warga Aleppo ke perbatasan Turki.

Laporan Syria Civil Defence menyebutkan bahwa mulai tanggal 22 April 2016 hingga 9 hari berturut-turut, rezim Assad bersama Komunis Rusia dan Syiah Iran kembali membombardir Aleppo tanpa kenal ampun. Dalam kurun waktu tersebut, dilaporkan lebih dari 260 serangan udara, 110 artileri, 18 peluru kendali, serta tak kurang dari 68 bom dijatuhkan, sehingga terjadi pembantaian besar-besaran warga sipil Aleppo, termasuk orangtua, wanita dan anak-anak. Akibat gempuran tanpa henti tersebut, sejarah mencatat bahwa untuk pertama kalinya selama lebih dari 1 milenium (1000 tahun), masjid-masjid di Aleppo tidak dapat melakukan sholat Jumat tepatnya pada tanggal 29 April 2016.

Di hari yang sama, rezim Assad melakukan serangkaian kejahatan perang, dengan sengaja menghancurkan RS Al-Quds di kota itu. Tak kurang dari 50 orang dokter, paramedis serta pasien dilaporkan terbunuh saat serangan tersebut. Sebuah rekaman CCTV RS Al-Quds saat terjadi serangan bahkan disiarkan oleh stasiun TV Inggris, Channel 4.

Dunia tersentak, hashtag #AleppoisBurning disematkan pada laporan-laporan dan lintasan berita mengenai pembumihangusan Aleppo. Rezim Assad bersama Komunis Rusia dan Syiah Iran, juga milisi Lebanon dan Afganistan membakar dan membumihanguskan Aleppo, secara harafiah, termasuk rumah sakit, pasar, sekolah, pertokoan, pemukiman dan penduduk sipil yang tinggal di dalamnya dengan menggunakan peluru kendali, bom, mortar, artileri dan meriam.

Government by Repression

Enam belas tahun sudah, Bashar al-Assad menggantikan sang ayah sebagai Presiden Republik Suriah, benar kalau dia telah melakukan liberalisasi ekonomi. Namun faktanya tidak ada satu pun janjinya saat pidato inaugurasi yang berhasil diwujudkan, Bashar bicara mengenai pentingnya berpikir kreatif, kebutuhan akan kritik yang membangun, transparansi dan demokrasi. Kenyataan pahit yang dihadapi oleh rakyat Suriah hingga hari ini adalah tuduhan makar dan risiko ditangkap dan dipenjara hanya karena menulis blog yang memprotes kebijakan pemerintah. Bashar al-Assad terus menorehkan catatan hitam penuh darah dalam sejarah Suriah. Bersikap represif terhadap aktivis kemanusiaan dan politisi oposisi; mengekang kebebasan berekspresi; penyiksaan dan kekejaman terhadap rakyat sipil; perlakuan diskriminatif terhadap bangsa Kurdi dan melanjutkan kebiasaan lama sang ayah, yang menculik dan menghilangkan rakyat sipil yang berani berunjuk rasa. Laporan dari Human Rights Watch secara gamblang menyebutkan bahwa pemerintahan Bashar al-Assad hanyalah perpanjangan dari rezim ayahnya, sang diktator Hafez al-Assad – sebuah rezim pemerintahan yang represif.

Penutup

Sebagian dari kita, diutus Yang Maha Kuasa untuk menjadi ‘bel’ bagi sebagian yang lain. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi ‘bel’ bagi rasa kemanusiaan dan nurani kita, saya dan juga anda. Dan cukuplah Allah sebagai saksi, dan sebagai satu-satunya sebab, agar kita tidak berdiam diri atas keadaan saudara-saudara kita…

Satu hal lagi, sejarah berulang, Understanding Aleppo adalah kisah mengenai rezim yang bersikap represif terhadap mayoritas Muslim Sunni, sementara bersahabat dan menjalin kedekatan dengan Syiah dan Komunis… Does it ring a bell? Can you finally see it?

Remember, sometimes in order to see, you have to close your eyes (Yogi Prawira)

Keterangan foto: Sejak tahun 2011, Rezim Bashar al-Assad terus melancarkan terror kepada warga negaranya. Banyak wilayah Suriah yang kemudian tepecah dua, termasuk Aleppo yang terbagi pada bulan November 2012. (foto reuters)

 

Reporter : Denni

Editor   : Denni

BAGIKAN
loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

rohingya, myanmar

AS Sebut Tindakan Myanmar Terhadap Rohingya Pembersihan Suku

WASHINGTON, SERUJI.CO.ID - Amerika Serikat pada Rabu (22/11) menyebut tindakan tentara Myanmar terhadap warga Rohingya pembersihan suku dan mengatakan akan mempertimbangkan hukuman bagi pihak...
Stasiun Cipeundeuy

Banjir dan Longsor Terjang Jalur Kereta Api di Garut

BANDUNG, SERUJI.CO.ID - Banjir dan tanah longsor menerjang beberapa titik jalur rel Kereta Api di wilayah Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (22/11),...
Stasiun Cipeundeuy

Rel Tertutup Longsor, Empat Kereta Api Tertahan di Garut

BANDUNG, SERUJI.CO.ID - Jalur selatan kereta api tertutup longsoran tanah di KM231, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (22/11) malam, akibatnya empat pemberangkatan...

KANAL WARGA TERBARU

Setan Pendidikan yang Bernama Kompetisi

Oleh Muhammad Hanif Priatama Bagaimana cara kebanyakan orangtua mengetahui seberapa baik anaknya di sekolah saat ini? Jawabannya : RANGKINGNYA! Ya, tidak ada sarana yang paling...
KH. Luthfi Bashori

Pilih Mancung atau Pesek?

KH. Luthfi Bashori Seseorang yang berpakaian islami itu menunjukkan imannya MANCUNG di sisi Allah. Sedangkan menanggalkan pakaian islami itu adalah perbuatan orang yang PESEK imannya...
images lpdp

Contoh Essai LPDP: Sukses Terbesar dalam Hidupku

Beasiswa LPDP menjadi pilihan bagi para penuntut ilmu yang ingin melanjutkan pendidikannya pada level Master dan Doktoral, baik di Dalam maupun Luar Negeri. Salah...