
Akan tetapi, cobalah berpikir jernih bahwa selama ini perusahaan juga sudah mendapatkan banyak keuntungan.
“Jangan hanya kejadian sekali ini langsung mengeluh dan lantas mengorbankan pekerja,” katanya.
Saat berorasi pada Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), ia menyarankan semua pihak untuk harus duduk bersama, mulai dari serikat pekerja, para pengusaha hingga pemerintah, agar tidak terjadi PHK massal.
“Kita harus carikan win-win solution, karena pendapatan 80 persen warga Bali ada di sektor pariwisata, jangan sampai banyak orang dikorbankan karena masalah ini,” ucapnya.
Besarnya dampak letusan “Gunung Dewa” itu digambarkan Menteri Pariwisata Arief Yahya dengan angka kerugian yang mencengangkan, yakni sekitar Rp9 triliun potensi devisa dari sektor pariwisata melayang atau hilang sebagai dampak letusan Gunung Agung.
Dalam peluncuran layanan transportasi helikopter Helicity di Jakarta (4/12), Arief Yahya melontarkan kalkulasi sederhana yakni kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sekitar 15 ribu orang per hari. Jumlah itu dengan perkiraan devisa mencapai Rp250 miliar per hari, sehingga sekitar 36 hari kejadian (letusan) sampai 31 Desember 2017, maka jika dikalikan Rp250 miliar akan menjadi sekitar Rp9 triliun.
Dalam konteks yang sangat dilematis ibarat makan buah simalakama itu, apakah Gunung Agung layak dipersalahkan sebagai penyebab turunnya wisatawan?! Ataukah, media massa yang membesar-besarkan fakta?! Ataukah, pertanyaan justru bisa dibalik: apa maksud Gunung Agung dengan “mengganggu” pariwisata?!.
“Kita harus kembali kepada konsep Tri Hita Karana atau keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam, karena bisa saja Gunung Agung marah dengan adanya ulah masyarakat Bali,” ujar warga Buleleng, Nyoman Dharma.
