Gunung Agung Versus Pariwisata Bali

Oleh Edy M Yakub, Jurnalis kantor berita Antara

0
1046
Gunung Agung erupsi
Kolom letusan abu vulkanik hingga 3.000 meter dari puncak kawah Gunung Agung. (Foto: Dok BNPB)

Perlawanan pertama terhadap si “Gunung Dewa” itu terjadi dengan tarik ulur perubahan status dari Siaga ke Awas dan akhirnya turun ke Siaga hingga akhirnya “meletus dalam status Siaga” pada 21 November 2017 (letusan pertama).

Letusan pertama itu akhirnya mendorong peningkatan status menjadi Awas lagi pada 27 November 2017 dan akhirnya benar-benar meletus pada 27-28 November 2017. Letusan kedua ini diikuti dengan penutupan Bandara Ngurah Rai Bali yang membuat wisatawan bingung bin bingung.

Perlawanan kedua justru terkait debat kusir ada-tidaknya lontaran batu dari puncak kawah ke arah Desa Dukuh yang diumumkan PVMBG berdasarkan data yang dimiliki, namun hal itu dimentahkan aparat pemerintah, karena lontaran ke desa itu tidak ada.

Faktanya, lontaran itu diyakini oleh PVMBG sebagai hal yang benar-benar ada, namun arah lontaran ke desa mana tidak disebut secara rinci, lalu menjadi “debat kusir” PVMBG dan pemerintah, karena media massa justru menyebut nama sebuah desa sasaran lontaran dengan jelas.

Perlawanan ketiga justru lebih logis yakni opini bahwa “Gunung Agung bukan Bali”, karena luas Bali itu mencapai 5.633 meter persegi, sedang kawasan rawan bencana (KRB) “hanya” delapan-10 kilometer. Apalagi, jika dihitung dari jumlah objek wisata. Traveloka sebagai perusahaan jasa layanan pemesanan tiket (pesawat, hotel, dan sebagainya) secara daring, mencatat 60 objek wisata di Bali.

Dari jumlah itu tercatat 10 objek wisata terletak di Karangasem yang merupakan “lokasi” Gunung Agung, sehingga objek wisata yang terdampak aktivitas vulkanis dari gunung itu jika dibandingkan dengan seluruh objek wisata di Bali hanya sekitar 12 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama