
Selain Pura Besakih, Taman Ujung, dan Pantai Amed di Karangasem, masih ada puluhan objek wisata yang tidak kalah favorit-nya di Ubud, Kuta, Nusa Dua, Seminyak, Sanur, Tanjung Benoa, Legian, Jimbaran, Tanah Lot, dan sebagainya.
Terlepas dari semua perlawanan itu, ketiga bentuk perlawanan itu mengisyaratkan pariwisata merupakan “taruhan” Pulau Dewata dan dunia kepariwisataan Indonesia di mata dunia, apalagi IMF-Bank Dunia mengagendakan “meeting” di Bali, Oktober 2018.
Pariwisata “serakah” Tidak dipungkiri, imbas dari letusan Gunung Agung memang meruntuhkan berbagai sektor dan sektor yang paling rentan adalah pariwisata, karena telah terjadi penurunan jumlah wisatawan ke Bali.
Penurunan itu pun diikuti dengan tingkat okupansi hotel yang juga turun hingga akhirnya ada beberapa perusahaan yang mulai “merumahkan” para pekerjanya.
“Para pekerja jangan dijadikan korban, mengingat pengabdian mereka pada perusahaan ada yang mencapai puluhan tahun,” kata Ketua Federasi Serikat Kerja Bali (FSKB) Wayan Suyasa di Denpasar (17/12).
Wayan Suyasa yang juga Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Badung itu menyadari perusahaan banyak merugi akibat bencana kali ini, karena pemberitaan di luar negeri sudah cukup besar.
