Kisah “asmara” Khairul dengan gajah berawal saat dia merantau ke Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, dari kampung halamannya di Kota Medan, Sumatera Utara pada 1997. Dalam benaknya, pria dengan pendidikan terakhir di bangku SMA tersebut tidak pernah bercita-cita menjadi mahout atau pawang gajah.

Namun, jalan takdir berkata lain. Pria berkumis tebal dan seketika tampak galak itu bersyukur bisa mengenal gajah. Bahkan, karena gajah, saat ini dia menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dengan pangkat Golongan II/D.

“Karena gajah pula saya bisa jalan-jalan ke Bali, Jakarta, Batam. Semuanya karena gajah, yang sama sekali tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tutur Khairul yang sebenarnya sangat ramah itu.

Loading...

Namun, untuk mencapai semua yang diraih hari ini, mahout paling senior di PLG Minas itu, mengaku tidak mudah. Begitu banyak duka yang ia alami. Namun, karena beratnya kehidupan di kampung halamannya, dia mengatakan tidak ada pilihan lain, selain menjalaninya.

Menjadi mahout tidak hanya bertugas sebagai pengasuh dengan memberi makan, memandikan, dan melatih gajah. Seorang mahout juga bertugas melakukan pengamatan sehari-hari memantau kesehatan gajah.

Pengamatan sehari-hari juga untuk mengidentifikasi “bakat terpendam” yang dimiliki gajah. Apakah gajah tersebut berbakat di bidang patroli penghalauan gajah dan perlindungan lahan pertanian, gajah wisatawan atau bahkan gajah yang berbakat di bidang hiburan di arena sirkus.

Di sisi lain, mahout harus memperlakukan sang gajah layaknya anggota keluarganya sendiri. Mahout pun harus memperlakukan gajah-gajah yang ada di alam liar dengan kasih sayang.

Mahout mempunyai tanggung jawab besar dalam merawat gajah. Menjadi seorang mahout juga bukanlah tugas yang ringan. Risiko gajah asuhannya yang mengamuk, hingga datangnya gajah liar ke permukiman dan ladang warga selalu mengancam.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama