SERUJI.CO.ID –┬áKonflik gajah dengan manusia di Sumatera, khususnya Riau cukup tinggi. Bagi sebagian besar masyarakat, gajah dianggap sebagai hama, akan tetapi di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dua makhluk itu bisa menjalin cinta.

Khairul, salah satu contoh manusia yang telah menjalin cinta dengan satwa bongsor yang beratnya bisa mencapai enam ton tersebut selama lebih dari 21 tahun lamanya.

Saat ditemui akhir pekan lalu di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, pria paruh baya itu tampak bergegas membawa pelepah sawit ketika matahari pagi baru saja beranjak di ufuk timur. Tubuh kurusnya hampir tertutupi dahan hijau salah satu makanan kegemaran gajah sumatera (Elephanus maximus sumatranus). Dengan langkah cepat, dia menuju ke tanah lapang, tempat 16 ekor gajah beristirahat.

Loading...

Khairul Amri, begitu nama lengkap bapak dua anak berusia 44 tahun tersebut, saban hari tidak jemu bercengkarama dengan gajah-gajah jinak di Pusat Latihan Gajah Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Bahkan, dia mengaku lebih sering menghabiskan waktu bersama gajah-gajah sumatera itu dibandingkan dengan istri dan anaknya.

“Termasuk hari ini, saya tetap mengurusi gajah-gajah. Saya sama gajah memang sudah jatuh hati,” katanya.

Pagi itu, cerita cinta Khairul diawali dengan membersihkan tempat penangkaran gajah dari kotoran. Sarapan berupa pelepah sawit dan batang pisang seketika tersedia di hadapan hewan berbelalai tersebut.

Tak jarang Khairul berbicara dengan gajah, layaknya sahabat karib. Anehnya, sang gajah seolah mengerti dan komunikasi dua arah pun terjalin. Memandikan gajah di sungai menjadi agenda rutin selanjutnya setelah memberi mereka sarapan.

Dengan manja, gajah-gajah itu meminta Khairul membersihkan setiap sudut bagian tubuhnya. Mulai dari kuku, telinga, mulut, hingga belalai. Tak jarang gajah itu usil dengan menyemburkan air melalui belalainya.

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama