Dari seluruh mahout, tidak semuanya beruntung seperti Khairul yang telah menyandang status PNS.

Pargaitan Nahampun misalnya, pria berusa 51 tahun itu telah menjadi mahout di PLG Minas selama 13 tahun. Saat ini, dia hanya menjadi pegawai kontrak dengan penghasilan standar upah minimum regional (UMR) Riau.

Saat awal menjadi mahout, dia mengaku diangkat sebagai tenaga honorer. Dengan menjadi honorer, dirinya berharap ada perubahan status menjadi PNS. Belakangan, kebijakan pemerintah soal status honorer dihapus, dan diganti dengan status kontrak.

Setiap pegawai yang sebelumnya honor saat ini berstatus sebagai kontrak, dengan perpanjangan setiap satu tahun. Sedikitnya, ada 21 mahout yang memiliki status sama seperti Pargaitan.

Dengan penghasilan sebesar itu, dia mengaku harus bijak untuk memilah kebutuhan dapur serta biaya pendidikan dua anaknya.

Hal senada Pargaitan, juga dirasakan Una Harahap. Kedua pria itu telah menjadi mahout hingga saat ini yang selama 16 tahun.

Untuk menambah penghasilan, mereka mengaku berharap pada kunjungan masyarakat. Sebenarnya, tidak ada patokan harga bagi masyarakat yang berkunjung ke PLG Minas.

Namun, tidak dipungkiri masyarakat yang berkunjung terkadang memberikan uang sekadarnya kepada pengelola yang dapat menjadi tambahan bagi mahout berstatus kontrak.

Mereka berharap perhatian dan cinta yang telah dicurahkan kepada gajah-gajah itu setara dengan perhatian pemerintah kepada mahout.

Setidaknya, mereka meminta pemerintah dapat memberikan kejelasan status PLG Minas yang sejak dahulu diwacanakan sebagai tujuan wisata, namun hingga kini wacana itu menguap entah ke mana.

Mereka memastikan bahwa meski hidup dengan penghasilan terbatas, cinta-cinta mereka kepada gajah tersebut tidak akan mudah luntur.

Setidaknya untuk saat ini, gajah-gajah tersebut tetap sehat dan bahagia bersama mahout.

(Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama