Soal Pose Dua Jari Anies, Bawaslu Akan Putuskan Dalam 14 Hari

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akan memutuskan perkara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam 14 hari terkait dengan pose dua jari yang diacungkan saat menghadiri Konferensi Nasional (Konfernas) Partai Gerindra di Bogor, Desember lalu.

“Kami punya waktu 14 hari untuk menentukan apakah ini sudah memenuhi unsur atau tidak,” kata Ketua Bawaslu Abhan di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (9/1), saat menjawab pertanyaan beberapa anggota DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR.

Abhan menyatakan Bawaslu tidak bermaksud untuk memperpanjang atau berusaha menggiring opini publik dalam penanganan perkara Anies.

“Kami tidak bermaksud memperpanjang ataupun membuat opini, tetapi masih dalam range waktu kami untuk melakukan klarifikasi dan menemukan alat-alat bukti yang ada,” kata Abhan.

Baca juga: Dipanggil Bawaslu soal Pose Dua Jari, Anies Dicecar 27 Pertanyaan

Hingga saat ini, katanya, Bawaslu Kabupaten Bogor yang menangani perkara ini masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan berkas-berkas untuk klarifikasi. Anies pun telah diperiksa untuk dimintai keterangan.

“Saat ini kami sedang mengumpulkan berkas-berkas klarifikasi, dan kasus ini sebetulnya ditangani oleh Bawaslu Kabupaten Bogor. Yang bersangkutan meminta untuk bisa diperiksa di Bawaslu RI karena soal jarak waktu tempat,” ujarnya.

Bawaslu Kabupaten Bogor sebelumnya menyebut ada dugaan kehadiran dan tindakan Anies di Konfernas Gerindra di Bogor, Jawa Barat, pada 17 Desember 2018 lalu sebagai tindakan pejabat yang menguntungkan salah satu calon.

Pada acara itu Anies juga mengacungkan pose dua jari yang diduga sebagai bagian kampanye untuk pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Baca juga: Anies: Insya Allah Sukses Pilgub DKI Terulang di Level Nasional

Jika dugaan itu terbukti sebagaimana diatur Pasal 547 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, maka Anies terancam pidana penjara tiga tahun.

Dalam Pasal 547 UU Pemilu menyebutkan, setiap pejabat yang dengan sengaja melakukan tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu peserta pemilu dalam masa kampanye dipidana tiga tahun penjara dan denda Rp36 juta. (SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

GOLPUT: Halal Versus Haram, dan Gerakan Ayo Memilih

Di tahun 2019, kita mencatat ikhtiar gerakan anti Golput yang unik di Indonesia. Promotornya Jeune and Raccord Communication. Tiga anak muda memulai gerakan ini: Monica JR, Riries Puri, Arie Prijono.

Dahnil Anzar: Gerindra Juga Siap Jadi Mitra Koalisi Presiden Jokowi

“Jadi, sampai detik ini Pak Jokowi dan pihak Pak Jokowi belum bilang mau memberikan sekian banyak menteri ke Pak Prabowo dan Gerindra, itu belum ada,” tukas Dahnil.

Nilai Negara Darurat Radikalisme, NU Minta Pemerintah Tindak Tegas Pelaku Terorisme

KH Said menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah dengan radikalisme dan terorisme yang terjadi di Tanah Air sekarang ini.

Wanita Penyebar Video “Penggal Kepala Jokowi” Akan Divonis Siang Ini

Ina didakwa menyebarkan video yang kemudian viral berisi konten seorang pria berinisial HS mengancam akan memenggal kepala Presiden Jokowi.

Tidak Hanya Bukan Penentu Ketum IKA ITS Terpilih, Hasil OMOV Juga Berpeluang Dianulir Senat

Namun, menurut Cak Tatok, nama-nama calon Ketum yang terpilih di OMOV masih berpeluang dianulir oleh Senat IKA ITS karena pertimbangan PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela).

Inilah Bakal Calon Ketum IKA ITS Yang Akan Dipilih dengan Sistem OMOV

Namun, ada yang berbeda pada OMOV IKA ITS yang akan melibatkan seluruh alumni ini, dimana hasil OMOV bukanlah sebagai penentu Ketum terpilih, tapi hanya sebagai proses penjaringan calon Ketum yang kemudian akan dipilih di Kongres.

Video Detik-Detik Wiranto Diserang dan Ditusuk Orang Tak Dikenal

Mantan Panglima TNI tersebut, mengalami dua luka tusuk di bagian perutnya, dan langsung mendapat perawatan di RSUD Berkah Pandeglang untuk kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Tidak Hanya Bukan Penentu Ketum IKA ITS Terpilih, Hasil OMOV Juga Berpeluang Dianulir Senat

Namun, menurut Cak Tatok, nama-nama calon Ketum yang terpilih di OMOV masih berpeluang dianulir oleh Senat IKA ITS karena pertimbangan PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela).

Inilah Bakal Calon Ketum IKA ITS Yang Akan Dipilih dengan Sistem OMOV

Namun, ada yang berbeda pada OMOV IKA ITS yang akan melibatkan seluruh alumni ini, dimana hasil OMOV bukanlah sebagai penentu Ketum terpilih, tapi hanya sebagai proses penjaringan calon Ketum yang kemudian akan dipilih di Kongres.