Ia melanjutkan, usaha ini dibuka di Kota Bandarlampung tanpa adanya izin terlebih dahulu dari pemerintah setempat, sehingga menunjukkan arogansi terhadap rakyat di Kota Tapis Berseri.
“Sejak adanya angkutan berbasis daring ini, untuk memberikan uang ke istri-istri kami sudah susah karena pendapatan per hari menurun drastis,” katanya.
Sebagian besar angkot yang datang ke Kantor Wali Kota Bandarlampung dialihkan oleh aparat kepolisian ke Halaman Masjid Al Furqon guna menghindari kemacetan yang berkepanjangan di pusat kota itu.
Pantauan di lokasi, yang melakukan aksi mogok adalah angkot seluruh jurusan yang jumlahnya mencapai ribuan, namun yang datang ke kantor wali kota jumlahnya ratusan. Ada sopir angkot sengaja menghentikan kendaraannya di tepi jalan seperti yang terlihat di Jalan Teuku Umar.
Sejumlah orang tua mengkhawatirkan transportasi anak ke sekolah, apalagi jika mogok tersebut berlanjut bahkan kabarnya hingga sepekan. (Ant/SU01)
