Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Oleh: Ferry Koto, Pengamat pendidikan dan kebijakan publik.


SERUJI.CO.ID – Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran lewat berita dan informasi yang berbasis fakta, data, dan bersandar pada aturan objektif.

Bagi masyarakat yang terjangkit Post Truth, mereka mencari berita dan informasi yang mereka sukai, yang kebenarannya bersandar pada kesukaan mereka, subjektifitas.

Sangat menguntungkan bagi media, karena media bisa mengubah dirinya menjadi media ‘entertain’, tidak lagi menjadi penyampai kebenaran –yang sering pahit untuk sekelompok pihak, manis bagi pihak lain.

–00—

Media sesungguhnya akan sangat mudah bertumbuh dan mengambil keuntungan dari Post Truth. Media tinggal menyajikan kesukaan, dan media pun akan dikonsumsi dan digemari secara militan.

Kerja awak media pun jadi mudah, tak perlu lagi mencari data dan fakta yang sahih, tak lagi bersandar pada kebenaran objektif yang terikat pada aturan-aturan kebenaran yang telah disepakati. Tapi, cukup beropini menyajikan apa yang sedang disuka kelompok masyarakat yang terjangkit Post Truth.

Mudah dan menguntungkan. Apapagi bagi media online, pasti trafik akan membesar, pembaca akan militan. Dan bisa jadi dapat ‘tawaran’….

—000—

Tapi ada syaratnya jika media ingin melakukan itu. Apa syaratnya?

Buang idealisme Jurnalism mu !!

Buang idea bahwa media itu adalah pelita yang pancarkan kebenaran. Buang juga gagasan bahwa media itu penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan kebenaran.

Dan jadilah media yang hanya meng-‘entertain’ pembacanya, kelompok yang terjangkit Post Truth. Siapapun kelompok itu.

Tapi. jika tidak bisa membuang itu semua, maka bersiaplah media mu akan dicerca, dimaki, dan dibanjiri berbagai tudingan. Kadang kelompok satu yang menuding, kadang kelompok satunya lagi.

Itulah risiko yang harus diambil, jika media tak ikut berselancar di atas gelombang masyarakat yang terjangkit Post Truth.

–000—-

Hidup itu pilihan, tinggal memilih mau jadi apa. Dan nanti sejarah akan mencatatnya, apakah pilihan kita itu berkontribusi positif bagi peradaban atau hanya jadi bagian yang merusak peradaban.

Wassalam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Salah Besar Bila Disebut Konflik Agraria Tidak Ada 3 Tahun Terakhir, Berikut Datanya

Pendapat Guru Besar hukum terkait pernyataan capres nomor urut 01, Jokowi soal tidak adanya sengketa lahan dalam kurun 3 tahun ini di proyek infrastruktur.

Fahira ke Haters Anies: Jangan Sering Gol Bunuh Diri Nanti Kehabisan Energi

Bedakan wilayah Bekasi, Tangerang dan DKI saja tidak mampu. Siapa pengelola Kawasan GBK dan Jembatan Utan Kemayoran saja tidak paham. Bagaimana mau mau kritik apalagi menyerang.

Sering Kesemutan di Tangan Maupun Kaki Sejak Usia Muda, Apakah Sebabnya?

Kesemutan yang saya derita mudah timbul, semisal saat mengendarai sepeda motor, tangan saya memegang stang meskipun tidak erat dalam waktu 10 menit kedua tangan saya merasa kesemutan bercampur kebas, dan akan normal kembali apabila saya lepas.

Dinilai Lembek ke China Soal Natuna, PA 212 Minta Presiden Jokowi Pecat Prabowo

Menurut PA 212, langkah yang diambil Prabowo sangat kontras dengan sikap Presiden Jokowi yang tidak mau berkompromi dengan China yang telah melakukan pelanggaran batas wilayah di perairan Natuna.

Inilah Kekayaan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah Yang Kena OTT KPK

Jumlah harta Saiful ini melonjak hampir empat kali lipat dibanding saat awal ia menjabat Wakil Bupati Sidoarjo periode 2005-2010, yang berdasarkan LHKPN tertanggal 28 April 2006 bernilai total Rp17.349.095.000.

Flash: Bupati Sidoarjo Kena OTT KPK Terkait Dugaan Pengadaan Barang dan Jasa

OTT KPK ini, adalah juga yang pertama kali sejak revisi UU KPK diundangkan menjadi UU Nomor 19 Tahun 2019 atas perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002.

Utang RI Meroket Rp4.778 Triliun, Sri Mulyani: Kita Masih Lebih Hati-hati Dibanding Malaysia

Bahkan, jika dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina, jelas Sri Mulyani, pengendalian utang Indonesia jauh lebih hati-hati.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close