SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Kasus penganiayaan yang berujung kematian yang dilakukan HI (17) terhadap Guru GTT (Honorer) Ahmad Budi Cahyono, dinilai pengaruh dari Media Sosial (medsos). Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Saiful Rachman saat konfrensi pers di kantornya, Jumat (2/2).
Saiful mengakui bahwa untuk menghadapi generasi sekarang tidak mudah. Sebab mereka dengan mudah mengakses informasi yang ada di dunia maya, sehingga mampu melakukan apa saja.
“Sosmed pengaruhnya kuat sekali, makanya saya aktif disitu supaya apa yang diinginkan masyarakat dapat kita pahami,” ungkapnya.
Saiful juga menegaskan baik Kepala Sekolah, guru dan orang tua harus bekerjasama dalam mendidik anak, karena pendidikan khusus pendidikan karakter tidak hanya didapat di sekolah melainkan juga di lingkungan rumah.
“Diharapkan pendidik harus peka terhadap siawa yang mempunyai track record tidak bagus. Maka guru Bimbingan Konseling (BK) harus antisipasi untuk memberikan bimbingan,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Ahmad Budi Cahyono, Guru GTT (Honorer) SMAN 1 Torjun Sampang dilarikan ke RSUD Dr Soetomo karena tidak sadarkan diri setelah diduga dipukul oleh muridnya.
Setelah mendapatkan penanganan, akhirnya nyawa Budi tidak tertolong. pihak RSUD dr Soetomo mendiagnosa bahwa guru GTT itu mengalami mati batang otak dan semua organ dalam tidak berfungsi. (Devan/Hrn)
