Risma Minta Dinsos Cek Kesehatan Keluarga Korban HIV

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta dinas sosial setempat mengecek kondisi keluarga atau tiga orang anak yang hidup sebatang kara karena orang tuanya meninggal akibat penyakit HIV di kawasan eks lokasisasi Dolly.

“Nanti kita memberikan bantuan permakanan setiap harinya kepada semua anggota keluarga termasuk ibu yang merawat salah anak tersebut,” kata Risma di Surabaya, Sabtu (21/4).

Risma mengatakan bahwa kondisi ini diketahui pada saat dirinya bersama lima orang jurnalis televisi dari Belanda dan Aljazira meninjau eks lokalisasi Dolly pada Jumat, (20/4).

Dalam kunjungan itu, Risma mendengarkan cerita salah seorang ibu yang mengatakan ada tiga orang anak yang hidup sebatang kara karena orang tuanya meninggal akibat penyakit HIV.

Dari tiga anak tersebut, seorang anak ikut dengan ibu itu, dan dua orang anak lainnya tinggal dengan neneknya. Hanya saja, neneknya tersebut saat ini dalam kondisi sakit keras.

Mendengar hal tersebut, Risma memerintahkan Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya untuk segera mendata dan mengecek kondisi keluarga dan tiga anak tersebut.

Tidak hanya itu, Risma juga menggratiskan biaya kesehatan bagi seorang ibu yang mengalami sakit keras usai melalukan pemeriksaan di salah salah tempat pemeriksaan orang sakit di eks Dolly.

“Ibu itu menangis dan bercerita kalau dirinya diwajibkan dokter cuci darah. Namun menolak karenakan tidak ada biaya. Saya katakan kepada ibu itu, tidak usah mikir biaya, nanti dikasih fasilitas kesehatan gratis dan diberi permakanan serta uang setiap bulannya,” ujarnya.

Selain masalah kesejahteraan sosial, Risma juga mendata anak-anak yang mengalami putus sekolah di eks Dolly. Menurut data dinsos ada sekitar 22 anak SD dan SMP yang mengalami putus sekolah.

Menurut Risma, beragam alasan dilontarkan anak-anak ketika ditanya alasan mengapa mereka putus sekolah di antaranya, belum membayar SPP dan akhirnya tidak bisa ikut ujian, ada juga yang ingin melanjutkan ke jenjang SMK tetapi putus karena tidak ada biaya.

“Kalau ingin mengubah nasib lewat pendidikan, jadi tidak boleh putus sekolah. Tidak usah mikir biaya, nanti saya carikan solusinya,” katanya.

Sementara itu, salah seorang jurnalis asal Aljazira, Stef menceritakan tujuan datang ke Surabaya terinspirasi dari seorang perempuan Belanda yang dulu melakukan perjalanan berkeliling dunia, termasuk Surabaya.

Dalam hal ini, dirinya bersama tim ingin mengkampayekan hak-hak perempuan. “Kami ingin mendokumentasikan sosok perempuan Belanda itu dengan perempuan kekinian yaitu Wali Kota Risma,” katanya. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

NKRI Bersyariah dan Ruang Publik Inkusif

Saya sendiri berpendapat bahwa dasar negara Republik Indonesia Pancasila sudah sangat memadai sebagai kesepakatan bersama menuju tatanan bernegara yang demokratik sekaligus mewadahi religiusitas inklusif dari segenap warga negara Indonesia termasuk didalamnya mayoritas ummat Islam.

5 Gili Paling Indah di Lombok Selain Gili Trawangan

Lombok enggak melulu soal Gili Trawangan karena ada gili-gili lainnya yang enggak kalah menarik untuk dikunjungi.

Orang Lebih Suka Cari Rumah Saat Sedang Bekerja

Berdasarkan traffic pengunjung portal properti Lamudi.co.id, ternyata waktu favorit masyarakat mencari rumah adalah saat di hari kerja, yakni pada hari Selasa hingga Kamis mulai pukul 10.00 pagi sampai 14.00 siang.

Nilai Nadiem Belum Layak Jadi Menteri, Driver Online: Lebih Baik Fokus Besarkan Gojek

Rahmat menilai, Nadiem belum layak menjadi menteri. Contoh skala kecil saja, dalam menjalankan bisnisnya di Gojek, Nadiem belum mampu mensejahterakan mitra nya, para driver online, baik yang roda dua maupun roda empat.

Tidak Larang Demo Saat Pelantikan, Jokowi: Dijamin Konstitusi

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang ingin dilakukan masyarakat, menjelang dan saat pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres 2019, pada tanggal 20 Oktober mendatang.

La Nyalla: Kongres PSSI Merupakan Momentum Mengembalikan Kedaulatan Voters

"Dengan hak suaranya di kongres, voters lah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini. Sebab, voters-lah yang memilih 15 pejabat elit PSSI untuk periode 2019-2023. Yaitu Ketua Umum, 2 Wakil Ketua Umum, dan 12 Exco," kata La Nyalla

Rhenald Kasali: CEO Harus Bisa Bedakan Resesi dengan Disrupsi

Pakar disrupsi Indonesia, Prof Rhenald Kasali mengingatkan agar pelaku usaha dan BUMN bisa membedakan ancaman resesi dengan disrupsi. Terlebih saat sejumlah unicorn mulai diuji di pasar modal dan beralih dari angel investor ke publik.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Demokrasi di Minangkabau