Senada, Faruk Fadian atau biasa disapa Dadang, warga Desa Timbrangan menjelaskan sebagian besar lahan pertanian di kawasan itu sudah banyak dibeli sejumlah perusahaan sejak 1996-1997, sebelum Semen Indonesia masuk.
“Lha kalau ada yang menolak pabrik semen karena ingin bertahan bertani, itu pakai rumus apa? Wong mereka sudah enggak punya lahan lagi. Sejak 1996 sudah dijual. Ada memang petani, tetapi tidak banyak,” katanya.
Selain itu, kata dia, saat masuknya sejumlah perusahaan sejak 1996 untuk menambang di desa itu tidak pernah diributkan, tetapi saat Semen Indonesia masuk justru ribut sehingga terkesan tidak masuk akal.
“Perusahaan-perusahaan itu menambangnya malah batu kapur mentah. Dari dulu tidak ada geger, kenapa sekarang Semen Indonesia masuk baru ribut? Makanya, warga sini sudah terbiasa dengan aktivitas penambangan,” pungkasnya. (Ant/SU02)
