Jawabannya pasti tidak, setelah membaca judul tulisan ini, karena tidak ada yang mau kembali ke masa-masa kehidupan kebangsaan pada 52 tahun lalu itu.
Dapat dipastikan tidak ada yang mau kembali kepada masa lalu yang penuh dengan hiruk pikuk dan konflik tajam politik saat itu dengan puncak tragedi yang terjadi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965.
Namun bukan mustahil kondisi seperti itu dialami lagi pada masa kini ketika bangsa ini tidak mau belajar dari sejarah kelam masa lalu.
Inilah yang akhir-akhir ini sedang berlangsung terkait dengan isu komunisme atau Partai Komunisme Indonesia (PKI) yang kerap muncul pada bulan September.
Dari polemik seputar PKI ini hanya berkutat pada debat kusir bahkan cenderung bernuansa fitnah dalam menyikapi peristiwa terkait dengan komunisme dan PKI.
Paham dan partai terlarang, berdasarkan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme, untuk hidup dan bangkit kembali di Bumi Pancasila.
Percakapan dan polemik isu PKI bahkan menyebar luas ke media sosial.
Riset bertajuk “PKI dalam Respons Netizen” dari Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) Rustika Herlambang, misalnya, menyebutkan bahwa selama sepekan terakhir ini polemik isu PKI menjadi cuitan tertinggi di media sosial twitter sejak 2016.
Sepekan terakhir hingga Kamis (21/9) pukul 20.40 WIB, terdapat sebanyak 437.221 cuitan tentang PKI di media sosial twitter.
Data yang direkam oleh I2, sebuah perusahaan di bidang intelijen media, analisis data, dan kajian strategis dengan menggunakan perangkat lunak (software) AI (Artificial Intelligence) yang mencatat intensitas percakapan tentang PKI, menyusul perintah Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo kepada seluruh jajarannya untuk menyelenggarakan nonton bareng (nobar) bersama masyarakat Film “Penumpasan Penghianatan G30S/PKI” produksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) arahan sutradara sineas kawakan Arifin C Noer dengan produser G Dwipayana yang dirilis tahun 1984.

MAU… Saya ingin menebus nyawa kakek yg dibunuh komunis itu 🙁