Cak Imin: Muslim Mayoritas Tapi Sebatas Menitip Aspirasi dalam Politik

JOMBANG, SERUJI.CO.ID – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyampaikan bahwa ummat Islam Indonesia hidup serba dalam paradoks, di satu sisi dijadikan acuan dunia sebagai model toleransi antaragama dan demokrasi.

Namun di sisi lain, ummat Muslim masih berjuang keras di dalam negeri untuk mengatasi berbagai gesekan akibat begitu pluralnya karakter bangsa ini.

“Jadi panutan, tapi masih ribet dengan diri kita juga,” kata pria yang akrab disapa cak Imin ini dalam Rapat Terbuka Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (9/12).

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB bersama Rektor Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Sabtu (8/12/2017).

Paradoksnya bukan hanya di situ saja, lanjut cak Imin, dalam konteks ekonomi meskipun ummat Islam mayoritas, namun malah minim dalam akses dan kualitas kesejahteraannya.

“Dalam politik juga masih ada paradoks. Kita ini mayoritas yang masih sebatas menitipkan aspirasi, belum yang mengeksekusi keputusan. Nah, kelihatan kan paradoksnya?” lanjut politisi yang digelari Panglima Santri ini.

Peserta yang hadir memberikan sambutan hangat atas apa yang disampaikan cak Imin. Tampak Rektor IAI Bani Fattah KH Abdul Kholiq, Pengasuh Ponpes Bumi Damai Muhibbin Tambak Beras KH Jamaludin Ahmad, dan Pengasuh Ponpes Alwardiyah III Tambak Beras KH Kholiq Mustaqim.

Juga terlihat KH Imam Haromain, Pengasuh Ponpes Putra Sunan Ampel Denanyar dan para pimpinan pondok pesantren lainnya di Jombang. Hadir juga ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Halim Iskandar dan jajaran DPRD Kabupaten Jombang.

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB diantara wisudawan Institut Agama Islam Bani Fattah di Tambakberas, Jombang, Sabtu (8/12/2017).

Cak Imin juga mengingatkan agar gairah agama yang tengah meluap di negeri ini jangan disalahpahami atau ikut paham yang salah.

“Pelajari agama dari sumber yang menyejukkan, yaitu pesantren NU, kyai NU, gus-gus NU. Insya Allah ilmunya nambah, hati pun adem, nasionalisme tetap kokoh,” ujarnya.

“Namun apa pun keadaannya, kita harus tetap bersyukur bahwa Indonesia saat ini masih aman damai. Di tengah situasi global yang kian panas seperti ini, damai itu mahal, langka. Lihat Syria, Irak, Yaman, Mesir, Jerusalem, bahkan AS sendiri menjadi semakin terancam akibat politik luar negerinya yang provokatif,” kata cak Imin.

Pada kesempatan ini, juga diwisuda 79 santri dan santriwati IAI Bani Fattah oleh Rektor IAI dan jajaran Senat IAI serta para guru besar di institut tersebut. (ARif R/Hrn)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

58 KOMENTAR

  1. Semua itu tentu ada asbabun nuzulnya. Kembeng hitamnya. Biang kelapanya.

    Itu semua disebabkan tak lain adalah karena keserakah nafsu para elit memecah belah dgn cara memperbanyak kelompok.

    Mestinya ummat Islam legowo bersatu dalam satu partai saja. Dengan azas TIGA ACUAN.

    1. Bertuhan sama Allah swt
    2. Bernabi sama Muhammad saw
    3. Berkiblat sama Ka’bah.

    Hal itu sdh di tunjukkan ketika pelaksanaan haji dimana seluruh orang yg bernama Islam (pada waktu itu) tidak ada yg mempersoalkan prinsip ibadah Islam lainnya !. Semua fokus dgn pelaksanaan haji !

    Dgn cara itu barulah Islam bisa kuat.
    Membuat partai Islam banyak beragam, itu sadar atau tidak sama saja artinya melemahkan Islam.

    Sdh saatnya Seluruh ummat Islam bersatu dibawah/ didalam satu partai –> Partai Islam Indonesia (P I I).

    • Dan 1 lagi,sistemnya harus dirubah..kalau sistemnya begini2 aj,ya sampai kiamat akan begini2 aj..hukum keras para koruptor & bandar narkoba serta tolak penjajahan dlm bentuk apapun,,kalau perlu hukuman mati bagi pelakunya tanpa pengecualian dan hukum harus benar2 berani tegak jgn takut intervensi asing & aseng dan yg paling terpenting penegak hukumnya jgn korupsi (hukum berbasis Syariah)..kalau ini sudah berjalan dg baik saya yakin Indonesia tdk akan ada Rakyat yg miskin & kelaparan

    • Anda pernah melaksanakan haji ?.

      Kenapa ummat Islam seluruh dunia bisa menyatu pada satu tujuan ? Padahal mereka berasal dari berbagai negara, bangsa, suku dan pola kehidupan !.

      Itu semua tak lain karena telah disatukan oleh 3 acuan (Tuhan nya sama, Nabi nya sama dan Kiblat nya sama).

      Sadarkah anda dgn tuntunan sistematis ajaran Islam tsb ???.

      Ketika melaksanakan haji, jutaan manusia yg sangat beragam; sesaat telah melupakan bangsanya, warna kulitnya, partainya.

      Meskipun sesaat, ekonomi Islam mulai dari hulu sampai kehilir bisa mencuat menjulang tajam dimasa itu.

      Demikian pula ketika Habib Riziq Shihab meneriakkan takbir memberi komando pada acara 212, meskipun cuma sesaat 7 jtan ummat Islam telah melupakan partai guremnya PPP, PKS, PAN, PBB dll; ternyata bersatunya cuma 3.5 % kekuatan Islam tsb mampu menumbangkan pertahanan penistanya dgn backing yg super power.

      Bayangkan bila ummat Islam sdh mampu menyadari pentingnya arti persatuan, menomor duakan partai guremnya. 50% saja umat Islam negeri ini mampu menyadari kejahilannya selama ini (dgn membuat banyak partai). Niscaya ummat Islam dinegeri ini akan mampu menjadi BULDOZER SUPER POWER.

    • Sdh saatnya kini dizaman komputerisasi ini, kita kita ummat Islam menyadari ketololan kita kita yg mau saja dipecah belah oleh beragam partai demi ambisi egonya masing masing; sehingga kekuatan Islam menjadi sangat lemah sekali akibat terpecah belah tersebut.

      Kelemahan Islam tersebut semakin terlihat ketika seorang Ahok mampu melecehkan.

      Nasib baik Allah berkata lain, HRS (non partai) telah terpanggil dan mampu mempersatukan meskipun cuma 3.5% saja dari ummat Islam negeri ini, tetapi mampu menghambat langkah seorang Ahok.

      Itu artinya kalau sempat 2 atau 4 orang seperti Ahok, berapa puluh juta ummat Islam harus beraksi ???

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER