Viral Video Sandiaga Uno Wudhu, Begini Penjelasan Mahfud MD tentang Wudhu yang Benar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Media sosial hari ini dihebohkan dengan cara wudhu Sandiaga Uno. Hingga Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pun mengomentari dan menjelaskan soal cara wudhu yang dilakukan calon Wakil Presiden nomor urut 02 itu.

Dalam video yang dikomentari Mahfud, terlihat Sandiaga bersama banyak orang sedang bersiap-siap mengambil air wudhu,

Sandiaga tampak berada di sebuah kamar mandi dan sedang mengambil air wudhu. Sepertinya di kamar mandi itu tidak ada keran yang bisa digunakan untuk wudhu. Sehingga ia menggunakan gayung untuk mengambil air di kolam. Kemudian, ia mencelupkan tangannya berulang kali ke gayung tersebut.

Hal itulah yang menjadi perdebatan warganet di media sosial, ada yang menganggapnya tidak sah wudhunya, sebagian lainnya berpendapat hal itu tetap sah, hingga kemudian Mahfud MD juga ikut mengomentari.

Menurut Mahfud MD, secara fiqih yang dianut Aswaja, pada umumnya wudhu tidak memakai air mustakmal. Di mana mustakmal artinya yakni air bekas pakai, seperti sudah disentuh.

“Secara fiqih yang dianut Aswaja pada umumnya “wudhu” tidak memakai air mustakmal kecuali sudah 2 qulah,” tulis Mahfud MD melalui akun Twitter @mohmahfudmd, Senin (31/12).

Mahfud juga menjelaskan cara wudhu yang benar, yang diusapi adalah seluruh wajah. Bukan hanya pipi, hidung, mata, dagu, kemudian juga dari telapak tangan sampai siku.

Ia menjelaskan, kalau apa yang ia tulis itu merupakan tata cara fiqih, sehingga ia meminta pernyataannya itu tidak dipolitisir jelang Pilpres 2019 ini.

Setelah itu, Mahfud MD juga menjelaskan soal 2 qulah dan air mustakmal. Ia kemudian menjelaskan bahwa air gayung yang dipakai Sandiaga Uno itu suci, tapi tak bisa mensucikan karena sudah ia sentuh berulang kali.

Baca juga: Mahfud MD: Tsunami itu Sunnatullah, Jangan Buru-buru Bilang Azab

Menurutnya itu merupakan fiqih yang diajarkan di pesantren-pesantren. Ia pun meminta agar cara wudhu Sandiaga Uno itu tak perlu diributkan.

“(2 qulah) sekitar 275 liter. Mustakmal artinya air bekas pakai, seperti sudah disentuh. Air mustakmal dalam gayung itu adalah suci tapi tidak bisa mensucikan. Tapi itu fiqih yang diajarkan di pesantren2 ya. Yang namanya fiqh merupakan hasil ijtihad jumhur fuqaha. Tak usah diributkan. Gunakan pendekan tasawuf,” tulis Mahfud.

Dalam bagian tulisan lainnya di Twitter, ia menjelaskan detail batasan air mustakmal.

“Mustakmal itu adalah air bekas terpakai atau bercampur dengan air yang sudah dipakai, seperti air melekat di tangan setelah membasuh wajah dan tangan itu dimasukkan ke gayung yang berisi air. Maka air di gayung itu meski higienes tetap mustakmal secara fiqh. Suci tapi tak bisa mensucikan. Ini fiqh ya…,” jelas Mahfud.

“Kalau air mustakmal tak boleh dipakai wudhu. Seharusnya air di gayung dituang ke tangan, bukan tangan yang dicelupkan ke gayung. Eh, tapi air mustakmal itu tidak najis ya, hanya tak bisa mensucikan. Kalau mau diminum, apalagi dicampur sirup dan es, itu halal. Halal dan menyegarkan seperti Yaqult,” imbuhnya.

Baca juga: Mahfud MD: Tak Semua yang Dipanggil Habib Keturunan Nabi

Selanjutnya ia menjelaskan berapa banyak basuhan maksimal sehingga disebut mustakmal. Hal itu itu untuk menambahkan penjelasan yang sudah disampaikan warganet terkait penggunaan air di dalam gayung.

“Ya, bisa dengan sebotol Aqua kecil. Asal dituangkan masing2 dalam satu basuhan. Jika tangan dimasukkan lebih 1 kali sentuhan (pembasuhan) seperti dalam video di atas itu sudah mustakmal, karena setelah dibasuhkan ke muka tangannya dimasukkan lagi ke gayung. Di Masjidil Haram banyak yang wudhu dengan secangkir air,” terangnya.

Berikutnya Mahfud menanggapi warganet yang tidak mempermasalahkan wudhunya Sandiaga karena air diambil dari kolam yang besar. Menurut Mahfud, air yang dipakai wudhu oleh Sandi itu sudah mustakmal karena tangan Sandi dimasukkan ke gayung berkali-kali.

“Mustakmalnya karena tangan dimasukkan ke gayung, kemudian dibasuhkan ke muka, lalu tangan dimasukkan ke gayung lagi, dan dipakai membasuh muka dan rambut lagi. Kalau tangannya dimasukkan ke kolam yang besarnya > 2 qulah meski ber-kali2 pun ya bukan mustakmal. Ini ritual alias fiqhnya,” jelas Mahfud.

(SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Umat Islam Harus Menangkan Pilpres dan Pileg

Mengingat betapa pentingnya momentum Pemilu 17 April 2019, maka umat Islam harus benar-benar berjuang dan mempunyai komitmen untuk dapat memenangkan pertarungan politik baik untuk Pilpres maupun Pileg yaitu memilih calon Paslon Presiden/Wapres serta Caleg yang didukung oleh Partai Politik yang memang punya komitmen berjuang dan keberpihakan untuk kepentingan Umat Islam dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

5 Gili Paling Indah di Lombok Selain Gili Trawangan

Lombok enggak melulu soal Gili Trawangan karena ada gili-gili lainnya yang enggak kalah menarik untuk dikunjungi.

Orang Lebih Suka Cari Rumah Saat Sedang Bekerja

Berdasarkan traffic pengunjung portal properti Lamudi.co.id, ternyata waktu favorit masyarakat mencari rumah adalah saat di hari kerja, yakni pada hari Selasa hingga Kamis mulai pukul 10.00 pagi sampai 14.00 siang.

Nilai Nadiem Belum Layak Jadi Menteri, Driver Online: Lebih Baik Fokus Besarkan Gojek

Rahmat menilai, Nadiem belum layak menjadi menteri. Contoh skala kecil saja, dalam menjalankan bisnisnya di Gojek, Nadiem belum mampu mensejahterakan mitra nya, para driver online, baik yang roda dua maupun roda empat.

Tidak Larang Demo Saat Pelantikan, Jokowi: Dijamin Konstitusi

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang ingin dilakukan masyarakat, menjelang dan saat pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres 2019, pada tanggal 20 Oktober mendatang.

La Nyalla: Kongres PSSI Merupakan Momentum Mengembalikan Kedaulatan Voters

"Dengan hak suaranya di kongres, voters lah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini. Sebab, voters-lah yang memilih 15 pejabat elit PSSI untuk periode 2019-2023. Yaitu Ketua Umum, 2 Wakil Ketua Umum, dan 12 Exco," kata La Nyalla

Rhenald Kasali: CEO Harus Bisa Bedakan Resesi dengan Disrupsi

Pakar disrupsi Indonesia, Prof Rhenald Kasali mengingatkan agar pelaku usaha dan BUMN bisa membedakan ancaman resesi dengan disrupsi. Terlebih saat sejumlah unicorn mulai diuji di pasar modal dan beralih dari angel investor ke publik.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Demokrasi di Minangkabau