Terkait Pemutaran Film G30S/PKI, PPP Bersikap Netral

SAMARINDA – Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) memilih bersikap netral terkait rencana pemutaran kembali film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” yang memunculkan pro dan kontra di masyarakat.

Ketua Umum DPP PPP Muhammad Romahurmuziy kepada wartawan di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (20/9), menyatakan sangat menghormati keinginan sejumlah pihak yang akan memutar kembali film tersebut.

Namun, pihaknya juga tidak menolak terhadap munculnya pandangan berbeda dari pihak lain terkait materi sejarah yang ada dalam film G30S/PKI itu.

“Bagi mereka yang ingin menghidupkan kembali film tersebut, ya tidak usah dilarang. Demikian juga bagi pihak yang keberatan film itu diputar lagi, jangan sampai timbul gejolak perlawanan hingga berakibat memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Romahurmuzy usai membuka Rapat Kerja Wilayah PPP Kaltim.

Ia menegaskan bahwa fakta sejarah telah menyebutkan adanya peristiwa pengkianatan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965.

Namun demikian, ia tidak menolak apabila ternyata ada fakta baru terkait sejarah masa lalu yang bisa diadopsi dan dijadikan pembaruan, sehingga menjadi materi sejarah yang sempurna dan lebih bisa diterima oleh generasi berikutnya.

“Sekarang ini rezim komunis internasional sudah mengalami kebangkrutan dan ada yang mengalami transformasi. Satu-satunya rezim komunis yang masih eksis hanya terjadi di Tiongkok dan saat ini pun sudah mulai bertransformasi ke kapitalisme,” papar Romy, sapaan akrabnya.

Pada kesempatan itu, Romy juga menyatakan tidak sependapat dengan tuntutan sebagian masyarakat terkait pembubaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), karena dugaaan menggelar seminar PKI.

Menurut ia, perlu ada pembuktian secara hukum bahwa YLBHI telah melakukan pelanggaran yang krusial terkait undang-undang dan ideologi negara.

“Sekarang ini masih sumir, perlu ditelusuri sesuai data dan fakta yang terjadi. Kalau saya pribadi tidak sependapat apabila alasan pembubaran karena yang bersangkutan menggelar seminar,” tegasnya Romy menambahkan bahwa kebebasan orang berpendapat, berkumpul dan berserikat juga dilindungi oleh undang-undang, sehingga sebaiknya perlu kajian lebih dalam dan lebih bijaksana sebelum mengambil keputusan agar tidak ada pihak yang dirugikan atas kejadian tersebut. (Ant/SU02)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Prabowo dan Ratu Adil

Orang-orang besar selalu hidup dengan gagasan besar. Dalam melihat kebesaran Prabowo, tentu saja kita bisa mengamati beberapa pikiran, sikap dan langkahnya beberapa waktu terakhir ini. Diantaranya adalah pertama, Anti Impor.

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

Boneka Cantik dari Balaikota

Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekom PDIP untuk pilwali Surabaya mencapai antiklimaks, Rabu (2/9). And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri. "Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Pria 57 Tahun di Bogor: Jari Kaki Terasa Kaku, Bekas Luka Menghitam dan Bersisik

Dok, jari-jari kaki saya terasa kaku, agak mati rasa kadang nyeri, terus kaki kanan di atas mata kaki awalnta gatal saya garuk luka, sekarang sembuh tapi kulitnya jadi bersisik dan menghitam. Ini indikasi apa ya dokter?

TERPOPULER