Kisah Buih di 411

0
20

Jakarta, Seruji.com– “Kita mungkin hanya buih, tapi apabila bersatu, kita bisa membuat gelombang…”

Ketakutan akan tersapu gelombang. Mungkin itu yang dirasakan oleh musuh-musuh Islam hari itu. Segala upaya mereka lakukan demi memecah belah umat.

Kami yang terpisah dari rombongan dan tidak bisa berkomunikasi karena sinyal hp mati, memutuskan untuk berjalan menuju balai kota. Gerakan kami terhambat blokade mobil yang diparkir menutup jalan. Segelintir orang hilang kesabaran dan memaksa untuk membuka pagar stasiun yang digembok.

“Lurus… Lurus… Jangan terpancing. Kita satu komando!!” Ada yang berteriak mengingatkan.

Kalau ada yang sangat saya rindukan dari hari itu, adalah suasana ukhuwah, Islamic brotherhood. Kami saling membantu, mengingatkan dan menasehati. Ada yang membagikan makananan dan minuman gratis.

Bahkan pedagang asongan dengan ikhlas membagikan dagangannya. Saat ada yang terlalu bersemangat, berteriak,”Tangkap a**k, penjarakan penista agama, gantung a**k!” Ada yang menanggapi dengan nada bercanda,”Sunat aje, sunat!”

Saat ada yang melintas jalur hijau atau taman, spontan ada yang mengingatkan,”Taman jangan diinjak. Tolong taman jangan diinjak…”

Beberapa kelompok anak muda berjalan dengan membawa kantong hitam besar, sambil mengingatkan,”Ayo buang sampah pada tempatnya. Nanti jadi fitnah media. Nanti masuk me**o tipu…”

Semakin siang suasana semakin gayeng. Sekelompok ibu-ibu ber-wefie ria. Bahkan ada yang berpose di atas mobil ambulans lengkap dengan selfie sticknya. Sebagian yang kelelahan mengaso di pinggir jalan.

Sekelompok massa yang terdiri dari laki-laki bergamis dan bertubuh tegap berhenti persis di depan balai kota. Sang ustadz memimpin orasi dengan bersemangat. Saya penasaran dan mendekat. Masya Allah. Di luar dugaan, ternyata ustadz tadi sedang berdoa diamini oleh para jamaahnya.

“Di dalam gedung ini ada saudara-saudara kita yang bekerja dengan ikhlas. (Semoga) Allah rahmati mereka beserta keturunannya. Semoga Allah rahmati mereka beserta keturunannya. Semoga mereka diberikan kekuatan untuk berbuat baik bagi rakyat Jakarta… Al Fatihah…”

Sekelompok polisi dan polwan yang sedang berjaga tak luput dari do’a sang ustadz. Hati saya berdesir dan bungah, seperti inilah akhlak muslim yang sebenarnya.

Hari menjelang petang saat kami perlahan mendekati Istana Negara. Langkah kami dihentikan seorang berjubah dan bersorban putih. “Jangan ke sana. Sudah terlalu ramai, nggak bisa masuk. Presiden juga tidak ada di tempat.”

Demi mendengar itu, perasaan saya campur aduk. Bapak presiden yang terkenal merakyat, memilih menyambangi proyek lain, saat jutaan rakyatnya berkumpul dan ingin mengadu. Amarah, kecewa, bercampur malu… Astaghfirullah.

Maghrib menjelang. Saya mulai gelisah karena malam itu harus kembali ke rumah sakit, memantau pasien khusus yang dioperasi oleh tim kolaborasi Jepang-Indonesia. Dilema antara ingin terus bertahan dan menunaikan kewajiban lain. Ayah mengerti kegalauan saya, tapi beliau

telah bersiap untuk bermalam. Ranselnya lengkap berisi baju ganti, odol dan masker. Saya tidak mungkin meninggalkan ayah seorang diri.

Alhamdulillah, Allah mempertemukan kami dengan rombongan dari PKU yang dipimpin Ustadz Ilyas. Rasanya hampir mustahil, mengingat banyaknya orang yang berkumpul saat itu. Saya titipkan Ayah ke Ustad Ilyas, setelah itu bergegas ke rumah sakit.

Saya berjalan cukup jauh, sebelum mendapatkan ojek yang mau berhenti. Di perjalanan ke rumah sakit, pak tukang ojek berceritera betapa dia (dulunya) mendukung pak presiden kita, dan betapa dia juga tersinggung saat agamanya dihina. Dia mengaku heran mengapa junjungannya menghindar dan tidak mau menemui umat yang aksi damai.

“Nyesel saya…” ujarnya polos.

Tiba di rumah sakit, alhamdulillah pasien-pasien kami terpantau dengan baik oleh staf dan tim picu yang sangat berdedikasi.

Saya menelpon ibunda untuk membujuk ayah agar tidak bermalam di sana. Alhamdulillah, ayah bersedia dijemput, juga janjian bertemu dengan abang yang seharian terpisah.

Saat itulah saya membaca berita mengenai kerusuhan di depan istana. Saya marah luar biasa, membayangkan aksi jutaan orang yang dijaga damai seharian, dirusak oleh provokator yang menyusup setelah gelap. Dan benar saja, berita demi berita muncul di media membahas ‘kerusuhan’ dan ‘anarkisme’. Naudzubillah.

Hari berikutnya setelah pulang ke rumah, saya menceritakan rasa kesal dan marah saya kepada ayah. Beliau mengingatkan kisah Sayidina Ali bin Abi Thalib saat perang Khandaq. Di masa itu, peperangan selalu dimulai dengan duel satu lawan satu. Pihak lawan diwakili oleh Amr bin Abd Wad yang sangat ditakuti. Rasulullah sampai menyeru tiga kali, meminta perwakilan kaum muslimin untuk maju. Ali bin Abi Thalib yang masih sangat belia menyanggupi.

Dengan izin Allah, perkelahian yang awalnya tampak tidak seimbang dimenangkan oleh Ali. Lawan sudah tersungkur, Ali sudah siap menebaskan pedang legendarisnya yang bermata dua, namun tiba-tiba melengos dan berbalik badan.

Saat Sayidina Ali ditanya oleh para sahabat,”Ada apa gerangan? Mengapa tidak menyelesaikan duel barusan?” Beliau menjawab,”Wajahku diludahi. Aku merasa sangat marah dan ingin membunuhnya” “Aku tidak ingin mengotori niatku berjuang di jalan Allah dengan rasa amarah dan kebencian pribadiku.”

Sejarah mencatat Perang Khandaq dimenangkan oleh kaum muslimin. Dan Amr bin Abd Wad tewas di tangan Ali bin Abi Thalib.

Apa yang sudah Allah gariskan pasti akan terjadi. Tugas kita hanya berusaha dan meluruskan niat. (*)

Keterangan foto: dr Yogi, kanan pertama bersama ayahnya, dr pramudjo saat ikut aksi belas islam ke 2, 411 (ist)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Sri Untari

Jadi Cawagub Khofifah, PDIP Akan Pecat Emil Dardak Sebagai Kader

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - PDI Perjuangan akan memecat dengan mencabut kartu tanda anggota (KTA) Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak sebagai kader partai. Hal ini dilakukan...

Tentukan Nasib Novanto, Inilah Keputusan Rapat Pleno Partai Golkar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Rapat Pleno Partai Golkar baru saja berakhir. Rapat yang dimulai pukul 13.00 WIB ini menghasilkan beberapa keputusan. Antara lain, Rapat Pleno ‎memutuskan...
sawah tercemar

Diberi Dana Tali Asih, Petani Tetap Tuntut PT Mitrabara Bayar Ganti Rugi Yang Sesuai

MALINAU, SERUJI.CO.ID - PT Bara Dinamika Muda Sukses (BDMS) menyerahkan dana tali asih sebesar Rp500 juta kepada petani sebagai bentuk ucapan permohonan maaf atas tercemarnya...

KANAL WARGA TERBARU

skripsi

Ingin Tulisan “WARGA SERUJI” Dibaca Banyak Pengunjung? Cobalah Trik Ini

SERUJI.CO.ID - Untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan membuat pembaca selalu menanti tulisan-tulisan anda di kanal "WARGA SERUJI", saya coba berikan sedikit petunjuk...
follow-leader

Menjadi Seorang Pemimpin

Seorang leader/pemimpin harus memiliki jiwa melayani. Pemimpin yang baik berasal dari pengikut yang baik. Cara menjadi pengikut yang baik adalah dengan mendengar, menjadi seorang...

KAPAN PEMIMPIN HARUS DIPATUHI ?

Luthfi Bashori Suatu saat Rasulullah SAW mengirim satu pasukan dan mengangkat seorang Anshar sebagai pemimpin, serta memerintahkan agar seluruh pasukan mematuhi pemimpinnya. Di tengah jalan, tiba-tiba...