Peran Orang Tua
Berbicara mengenai penanaman “daya imun” anak dari paparan konten negatif yang ada di internet, tentu saja peran orang tua yang lagi-lagi menjadi wadah pertama dan utama.
Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Parenting Indonesia (iParent) Sudibyo Alimoeso menambahkan bahwa konten negatif di internet sangatlah memprihatinkan.
Oleh karena itu, para orang tua dituntut untuk mampu memberikan penjelasan kepada anak-anak mereka tentang pemakaian gawai (gadget) dan penggunaan media sosial secara bijak Apabila orang tua telah paham tentang besarnya risiko yang disebabkan karena penggunaan gawai, semestinya orang tua dapat memberikan prakondisi dalam pemberian “gadget” yang disesuaikan dengan perkembangan umur anak.
Pada usia anak yang masih dini sampai menjelang remaja, misalnya, pengawasan akan lebih mudah karena bisa langsung dengan membuat aturan. Misalnya, pemakaian gawai dilakukan saat orang tua ada di rumah atau setelah pukul 18.00.
Agar anak tidak bosan, orang tua dapat memberikan kesibukan dengan mainan atau diajak melihat-lihat lingkungan di dalam maupun di luar rumah.
Untuk anak yang sudah remaja dan menjelang dewasa, kata dia, dapat diberikan pengertian yang mendalam tentang risiko dan tanggung jawab yang berkaitan dengan pornografi.
Dalam artian, orang tua harus memberikan pemahaman sejelas-jelasnya dan tidak perlu menyembunyikan istilah-istilah terkait dengan organ reproduksi agar anak remaja mengerti yang dimaksud.
Selain itu, Sudibyo mengingatkan pentingnya mengimbau para anak didik, melalui sekolah-sekolah dengan mengedepankan pendekatan yang ramah anak dan remaja.
Penguatan pendidikan karakter sesuai dengan Perpres Nomor 87 Tahun 2017, menurut dia, perlu lebih diintensifkan.
Dalam penguatan pendidikan karakter tersebut diperlukan sinergitas trisentra pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Khusus keluarga, ini yang merupakan sekolah pertama dan utama pendidikan karakter. Perlu diberikan pula pembekalan yang cukup bagi orang tua tentang pengasuhan anak yang benar.
Pada penguatan karakter tersebut, ada “empat olah” yang harus diharmonisasikan, yaitu olah pikir, olah rasa, olah raga, dan olah hati.
Olah pikir membuat anak semakin cerdas, kritis, kreatif, inovatif, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dengan berorientasi pada iptek. Olah raga membuat tubuh menjadi sehat, bersih, dan membentuk watak yang sportif, disiplin, tangguh, bersahabat, kooperatif, kompetitif, ceria, dan gigih.
Olah rasa membentuk karakter yang ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, mengutamakan kepentingan umum, dan beretos kerja tinggi.
Olah hati akan membentuk watak yang jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, serta beriman dan bertakwa.
Pada akhirnya kristalisasi dari nilai nilai karakter yang ditanamkan tersebut diharapkan dapat membentuk karakter anak dengan nilai religius, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri.
Menurut dia, yang terpenting tidak mudah terpengaruh pada paparan-paparan konten negatif yang ada pada era digital. (Ant/SU02)

Klasik tp merusak…dipwrlukan upaya pemerintah yg sungguh2, bukan lipsing