Froth alias Buih

0
44

Pamulang, Seruji.com– Buih? Terombang-ambing, bergerak ke mana pun ombak menyeretnya. Buih? Tak punya kemampuan untuk menentukan sendiri di mana dia akan beristirahat, sekalipun barang sejenak.

Buih? Menyerahkan nasib sepenuhnya kepada ombak yang menggulung. Buih? Tak punya kekuatan untuk bertahan di tempatnya berada. Sekuat apa pun kemauan dan usaha yang ia kerahkan, sebanyak apa pun mereka berkumpul untuk menyatukan kekuatan, mereka tetap terusir dari kampung halaman. Mereka tidak pernah dan tidak akan solid. Buih representasi kelemahan.

Adalah WAHN, penyakit kronis yg menjadikan kaum muslimin lemah seperti buih di lautan, sbagaimana dinubuatkan Rasulullah 14 abad silam.

Tengoklah kisah Thalhah bin Ubaidillah, contoh konkret orang yang jauh dari penyakit cinta dunia, takut mati.

Suatu hari sepulang dari berdagang di Hadhramaut, beliau mendapat untung sangat besar: 700.000 dirham. Lucunya, keuntungan besar ini malah membuatnya gelisah. Takut hartanya dirampok? Tidak. Takut dipungut zakatnya? Tidak. Ia justru takut karena harta itu masih menumpuk di rumahnya sedang fakir miskin dan dhuafa masih banyak didapati dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Atas saran istrinya yg shalehah, uang2 itu dimasukkan ke dalam pundi2 untuk diserahkan semua kepada fakir miskin keesokan harinya. Di mana letak cinta dunianya?

Beliau juga tidak takut mati.

Dalam Perang Uhud, barisan kaum Muslimin terpecah-belah dan kocar-kacir di sisi Rasulullah. Yang tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah dari Muhajirin. Ketika hendak naik ke atas bukit, Rasulullah dan para pendukungnya dihadang pasukan musyrikin. Satu per satu sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar menghadapi mereka, tapi kesemuanya syahid. Thalhah yg mendapat kesempatan terakhir berhasil menghalau musuh walau harus mengalami luka2 yg sangat parah: Tak kurang dari 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing, dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah. Para sahabat lain yg menemukannya mengira Thalhah telah gugur, tapi masih hidup sehingga beliau dijuluki Asy-Syaahidul Hayy, atau syahid yang hidup.

Bisakah kita mewarisi ketangguhan dan kewibawaan diri Rasulullah dan para sahabatnya di hadapan musuh2 mereka? Bisakah kita berpendirian seperti Rasulullah dan para sahabatnya untuk menentukan cara hidup sendiri yang Islami? Ataukah kita lebih suka mengikuti umat2 lain ke mana pun mereka menuntun kita, ke lubang biawak sekalipun? (Kusnandar/Pamulang)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Wapres Minta Menag Revisi 200 Daftar Mubaligh

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk merevisi daftar pendakwah yang direkomendasikan karena sebelumnya dikeluarkan Kemenag hanya...

Banyuwangi Masuk Kota Cerdas ASEAN

BANYUWANGI, SERUJI.CO.ID - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bersama dengan Jakarta dan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, masuk dalam jaringan Kota Cerdas ASEAN atau ASEAN Smart...

Korban Tewas Jatuhnya Pesawat di Kuba Jadi 111 Orang

HAVANA, SERUJI.CO.ID - Jumlah korban tewas pada salah satu bencana udara terburuk di Kuba meningkat menjadi 111 pada Senin (21/5), sementara Meksiko menangguhkan kegiatan...
ekonomi syariah

MUI Dukung 200 Daftar Mubaligh

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mendukung langkah Kementerian Agama yang merilis daftar nama mubaligh karena sifatnya untuk pencegahan terhadap...
Siswa SMA/MAN

Jawa Timur Jalin Kerja Sama Pendidikan dengan Korsel

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Dinas Pendidikan Jawa Timur menjajaki kerja sama pendidikan dengan Korea Selatan setelah ada pertemuan kepala sekolah SMA/SMK se-Surabaya dengan sebuah konsultan...