Program Sertifikasi Amil Zakat Dinilai Tingkatkan Kualitas Lembaga Zakat

0
200
  • 11
    Shares
amil zakat
Rajin Abdul Aziz (kiri) dan Prasetyo Wibowo (kanan) dalam Seminar Sosialisasi Standarisasi Kompetensi Amil Zakat Wilayah Jakarta Raya, pada Ahad, 14/5/2017. (FOTO: SERUJI/Raditya FI)

JAKARTA – Forum Zakat Wilayah Jakarta Raya (Fozwil Jakarta) menggelar Seminar Sosialisasi Standarisasi Kompetensi Amil Zakat untuk wilayah DKI Jakarta Raya, pada Ahad pagi (14/5/2017), di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia.

Seminar tersebut bertujuan agar setiap amil zakat telah disertifikasi/distandarisasi hingga meningkatkan kualitas seorang amil zakat. Program sertifikasi amil zakat berkaitan dengan proses penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran zakat. Dalam proses tersebut dibutuhkan tenaga-tenaga profesional, memiliki integritas dan transparansi.

Dalam seminar tersebut menampilkan dua narasumber, yaitu Asesor Standarisasi Amil Zakat Rajin Abdul Aziz, dan ahli Hukum Zakat Prasetyo Wibowo, .

Loading...

Prasetyo Wibowo menyampaikan bahwa proses sertifikasi dan standarisasi kompetensi amil zakat harus dilakukan dengan detil. Tujuannya agar pengelola amil zakat lebih tertata rapi dan punya standar nilai yang sama baiknya. Standar nilai yang baik salah satunya mengelola zakat sesuai dengan aturan fiqih.

“Selain dilakukan dengan detil, akan ada uji kompetensi yang diajukan untuk para calon Amil Zakat. Tim Sertifikasi dan Standarisasi bekerjasama dengan Departemen Agama RI sebagai pembimbing”, kata Prasetyo.

Kemudian Rajin Abdul Aziz menyampaikan bahwa substansi skema kompetensi amil zakat harus dimiliki oleh setiap amil zakat.

“Setiap amil zakat harus memiliki skema kompetensi amil Zakat dengan tujuan paham akan Standard Operation Procedure (SOP), seperti pengetahuan standar Mustahik,” tutur Aziz.

Saat sesi tanya jawab berlangsung, salah seorang peserta, Eneng Humairah, dari Lembaga Amil Zakat Wahana Muda Indonesia (LAZ WMI) bertanya tentang kesamaan sertifikasi Amil Zakat dengan sertifikasi Guru atau Dosen.

“Apakah sertifikasi ini nanti sama seperti sertifikasi dosen, guru dan lainnya, yang nantinya mendapat honorarium, karena ada amil zakat yang kegiatannya full time, bukan sampingan?” tanya Eneng kepada Rajin Abdul Aziz.

Aziz menanggapi bahwa hal tersebut akan dijadikan masukan ke lembaga sertifikasi.

“Karena itu jika ada hubungan honorarium harus ada undang-undangnya. Saat ini belum ada, namun itu akan jadi masukan ke depan,” jawab Aziz.

Di akhir seminar, ketua panitia penyelenggara yang juga sebagai Ketua Fozwil Jakarta, Saiful Hidayat menyampaikan bahwa Fozwil Jakarta Raya membuat aplikasi yang bertujuan sebagai wadah komunikasi antar LAZ DKI Jakarta, agar mempermudah koordinasi jika ada penyaluran bantuan suatu bencana supaya tidak berlebihan.

 

CJ: Raditya Ferry Irawan
EDITOR: Iwan Y

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU