Pemuda Muhammadiyah: Stop Stigmanisasi Radikal dan Anti Toleransi

0
63

GRESIK – Adanya fenomena dimana toleransi lebih sering dipertontonkan sebagai komoditas isu atau menjadi jualan di media, ketimbang diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa, membuat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak prihatin.

Hal tersebut diungkapkan Dahnil kepada SERUJI selepas Apel Akhbar Nasional Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) di Stadion Tri Dharma – Petrokimia Gresik, Gresik, pada Ahad (7/5) siang.

“Saya prihatin melihat kecenderungan perdebatan dan stigmatisasi soal radikalisme, anti toleransi, dan anti NKRI. Isu toleransi belakangan meningkat intensitasnya di media, terutama paska dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Ahok,” kata Dahnil.

Menurut Dahnil, tidak ada alasan untuk menuding warga Muslim yang tidak memilih Ahok sebagai anti toleransi.

“Dan saya juga menilai statemen Ahok yang menganggap masyarakat yang memilih atas dasar agama sebagai tidak konstitusional adalah menyesatkan.” kata Dahnil.

Sebagai bagian dari ke-Indonesiaan yang majemuk, menurut Dahnil, umat Islam sudah membuktikan kualitas toleransinya dalam merawat perbedaan. Orang Indonesia secara genetik itu toleran. Hanya saja banyak stigma buruk yang justru membuat masyarakat resah.

“Toleransi itu sudah menjadi DNA kita, jadi tidak perlu diperdebatkan. Toleransi jangan hanya menjadi jargon, tetapi harus diaktualisasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa,” ucap Dahnil.

“Namun, sekarang banyak stigma bahwa orang Indonesia, khususnya umat Islam sebagai orang radikalis dan anti toleransi. Stigma-stigma yang tidak menggembirakan tersebut bagi kami justru malah akan melahirkan orang-orang radikalis dan anti toleransi yang sesungguhnya.”

Melalui apel kebangsaan ini, Dahnil ingin mengingatkan stop stigmatisasi anti toleransi, stop stigmatisasi radikalis terhadap kelompok yang lain.

“Mari kita gembirakan. Mari kita tumbuhkan toleransi yang otentik, bukan toleransi yang pura-pura. Kami ingin ingatkan juga stop memperdagangkan toleransi, karena itu menimbulkan suasana yang tidak sehat,” papar Dahnil.

Dahnil tidak menafikan kalau ada kelompok kecil yang melakukan tindakan radikal. Menurutnya, semua bisa diatasi dengan penegakan hukum. Namun, ia menganggap justru saat ini yang tidak bekerja dengan baik adalah penegakan hukum.

“Akar utama radikalisme dan anti toleransi itu sebenarnya akibat tidak hadirnya keadilan. Kalau penegak hukum berlaku adil, maka radikalisme, anti toleransi, anti NKRI akan terkubur,” jelas Dahnil.

Ia berpesan bahwa negara punya kewajiban untuk menghadirkan keadilan.

“Negara fardhu ‘ain menghadirkan keadilan. Jangan sampai ketika sudah menjadi tindakan yang mengancam NKRI tapi malah tidak ada penegakan hukum, Tidak ada satupun Negara di dunia ini yang hancur gara-gara perbedaan ideologi, melainkan Negara bubar gara-gara tidak ada keadilan,” kata Dahnil.

 

Repoter & Foto: Iwan Y
EDITOR: Harun S

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Imunisasi

Warga Depok Kesulitan Ingin Dapatkan Imunisasi Difteri

DEPOK, SERUJI.CO.ID - Sejumlah warga di Kota Depok kesulitan ingin mendapatkan imunisasi difteri program imunisasi tanggap kejadian luar biasa kasus difteri di Indonesia atau...
Setya Novanto diperiksa KPK 2

Ahli: Praperadilan Gugur Saat Hakim Membuka Sidang

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ahli hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar menyatakan bahwa sidang praperadilan dapat gugur saat Majelis Hakim membuka...
bike messenger

Bidonesia Harumkan Nama Indonesia

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Bidonesia, wadah anak muda yang bergerak dalam layanan pengiriman barang menggunakan sepeda telah mampu berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai...

KANAL WARGA TERBARU

KH. Luthfi Bashori

Jangan Makan Daging Biawak

Konon, di Mina pada kisaran tahun 1990-an, saat berlangsung ibadah mabit dan lempar Jumrah di musim haji, banyak sekali para pendatang dari berbagai daerah...
Untitled

Utopia Share Syndrome

Hadirnya media sosial di tengah kerasnya kehidupan telah melahirkan "penyakit" baru yang bolehlah saya sebut dengan istilah "Share Syndrome". Sederhananya, Share Syndrome adalah semacam...

Max Havelaar dan AMDK Ummat

Dowwes Dekker adalah salah satu pencabut tonggak kejam kolonialisme di bumi Nusantara. Ia menjadi amtenaar saat Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memaksa penduduk...