Pemimpin Belum Lulus

14

Jakarta, Seruji.com– Baik buruk sebuah masyarakat di tentukan oleh pemimpinnya, jika pemimpinnya baik maka masyarakat pun ikut baik, namun jika pemimpinnya rusak maka rusak pula masyarakatnya.

Hal seperti ini telah di wartakan oleh baginda Rasulullah Saw, bahwa tanda tanda sebuah masyarakat yang rusak dan di antaranya sebagai tanda kiamat ialah saat diserahkan kepemimpinan kepada orang-orang yang bodoh, yang tidak dekat dengan Al Qur’an dan As sunnah dan juga tidak mendengarkan nasihat dari para ulama akhirat.

Telah bersabda Rasulullah Saw :

abir ibn Abdillah r.a meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. berkata kepada Ka’ab ibn ‘Ajrah, “ Semoga Allah melindunginya dari kepemimpinan orang bodoh, wahai Ka’ab. ” Ka’ab lantas bertanya, “ Apakah yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh, wahai Rasulullah ? “ Nabi menjawab, “ Sepeninggalku nanti, akan muncul para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengambil sunnah-sunnahku. Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka serta mendukung kezaliman mereka, maka mereka itu bukan termasuk golonganku dan aku pun bukan bagian dari mereka. Mereka tidak akan dapat mendekati telagaku. Barangsiapa tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak emndukung kezaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku pun merupakan bagian dari mereka, dan mereka akan mendapatkan bagian dari telagaku. Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, puasa adalah perisai, sedekah dapat menghapus kesalahan, dan shalat merupakan kedekatan atau petunjuk. Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, daging yang tumbuh dari barang haram tidak akan masuk surga, dan neraka lebih utama untuknya. Wahai Ka’ab ibn ‘Ajrah, manusia ada dua, ada yang menyerahkan jiwanya (kepada Allah) dan ada yang membiarkannya atau membinasakannya.”

(HR.Imam Ahmad dan Imam bazzar)

Dan dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda :

“Hari Kiamat belum akan terjadi sampai nanti kabilah-kabilah dikuasai oleh orang munafk dari kalangan mereka.”

(HR.Imam At Thabrani)

Yang di maksud pemimpin bodoh dalam hadits di atas adalah cara berpikir yang lemah, mementingkan golongan/pribadi, tidak amanah cenderung mencari cari pembenaran bukan pembenahan, tidak adil, dan tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara menjadi pemimpin, minimal ia bisa memimpin dirinya sendiri juga keluarganya kalau hal seperti itu tidak terpenuhi bagaimana mungkin bisa mengatur orang lain.

Apabila para penguasa, pemimpin hingga pejabat publik seperti ini. Maka tidak heran masyarakatnya rusak, yang pendusta di katakan jujur, yang jujur di anggap pendusta, pengkhianat di anggap orang yg terpercaya, orang yang terpercaya di anggap pengkhianat, banyak orang bodoh yang bicara dan orang cerdas pintar hanya diam alias jadi penonton.

Wallahu A’lam bishawab. (Jamal)

Keterangan foto: Ilustrasi (ist)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama