Mengedukasi Publik, SERUJI Gelar “Dakwah Lewat Media”

Ferry Koto mengatakan bahwa hoax dan ujaran kebencian di media sosial cenderung meningkat atau tumbuh subur di Indonesia. Dia menyampaikan data bahwa saat ini pengguna internet sudah sedemikian banyaknya, bahkan pemakai handphone lebih banyak dari jumlah penduduk Indonesia. Pemilik akun sosial media, seperti Facebook itu ada 115 juta (data April 2017), Twitter ada 50 juta, belum lagi Instagram, dan lain-lain.

“Oleh karenanya, kami dari Media, juga mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat. Agar masyarakat tidak terkena kasus hukum akibat tidak tahu bahwa menyebarkan hoax dan ujaran kebencian itu termasuk kejahatan yang telah diatur di KUHP dan UU ITE,” tuturnya.

Pembicara penutup, Fajar Arifianto mengatakan bahwa masyarakat saat ini mengalami percepatan dalam mengonsumsi media karena tren informasi adalah digital.

“Oleh karenanya, perlu adanya regulasi atau UU Konvergensi Media, termasuk di dalamnya mengatur bagaimana regulasi bisnis media,” kata Fajar.

Menurut Fajar, informasi dan berita adalah dua hal yang berbeda. Kalau berita, lanjutnya, minimal mengandung unsur 5W1H (what, who, where, when, why, how). Kalau itu tidak dimiliki harus di-cek dan ricek terlebih dahulu.

“Masyarakat harus selalu bersikap kritis, selektif, dan hati-hati ketika menerima sebuah berita,” tutur mantan Komisioner KPI ini.

“Jangan seperti gelas kosong yang mudah dimasuki, semuanya masuk tanpa filter,” imbuhnya.

Dalam acara kajian Islam bulanan ini, ditutup dengan sesi tanya jawab dari peserta yang terdiri dari masyarakat umum, ormas, dan mahasiswa.

Acara yang dimulai pukul 12.45 ini berakhir pukul 16.00. (Devan/SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER