Amiruddin menjelaskan, pemerintah pusat harus mendorong sekaligus memotivasi hartawan Indonesia untuk menjadi pewakaf (wakif) hartanya, dibandingkan rencana investasi atau mengambil alih kelola wakaf al-Asyi yang saat ini sudah berjalan dengan baik dan menguntungkan rakyat Aceh.
Dengan demikan, lanjut Amir, maka kedepan akan muncul ratusan orang bahkan lebih, seperti sosok Habib Bugak al Asyi di Indonesia. Mereka memiliki kepedulian dan cinta pada masyarakat, disamping mendapat pahala dari Allah Swt.
Menurut Amir, akan ada hartawan yang bersedia untuk menjadi pewakaf. Pemerintah pusat berperan sebagai fasilitator dan akselarator bagi calon pewakaf di Indonesia.
“Saya kira konsep ini akan lebih arif dan bijaksana dan membuka ruang bagi hartawan Indonesia untuk berbagi kebaikan dengan masyarakat Indonesia lainnya, akhirnya, kita akan memiliki sosok seperti Habib Bugak al – Asyi bertaburan di negeri ini,” ungkap alumni HMI ini.
Baca juga: BPKH Temui Pengusaha Arab Bicarakan Tanah Wakaf Pemerintah Aceh
Jika pemerintah pusat tidak jeli dalam melakukan investasi, kata Amir, tidak menutup kemungkinan bukan keuntungan yang akan didapat namun berujung pada kerugian.
“Meskipun konsep pengembangan itu baik dan tidak salah, tetapi, jika tidak tepat penanganannya, bukan keuntungan yang akan diperoleh, justru sebaliknya mendapatkan kerugian yang besar, biarkan saja yang sudah berjalan saat ini, lagi pula rakyat Aceh sudah diuntungkan,” pungkasnya. (Syahrial/Hrn)
