KOTA LANGSA, SERUJI.CO.ID – Rencana Badan pengelola Keuangan Haji (BPKH) Indonesia untuk investasi atau mengelola tanah wakaf milik masyarakat Aceh yaitu Habib Bugak al Asyi di Saudi Arabia menuai protes dari berbagai kalangan di Aceh.
Menaggapi hal tersebut, Dr. Amiruddin Yahya Az Zawy, MA akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa Dalam hal ini mendesak pemerintah pusat untuk dapat mendorong orang kaya Indonesia mewakafkan hartanya di jalan Allah.
“Akan lebih baik pemerintah pusat tidak mengelola atau investasi pada tanah wakaf tersebut, meskipun kita belum tahu persis detail rencana tersebut, baik manajemen, sistem pengelolaan dan bagi hasil dari keuntungan karena rencana itu masih pada level wacana,” ujar dosen pascasarjana IAIN Langsa kepada SERUJI, di Kota Langsa, Aceh, Senin (13/3).
Menurutnya, jika saat ini terjadi penolakan dari berbagai kalangan di Aceh atas rencana pengelolaan tanah wakaf tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat terdapat adanya faktor sejarah.
“Saya kira, penolakan ini dapat dipahami, penolakan lebih disebabkan oleh persoalan trust, sejarah dan keadilan. Faktor inilah, yang kemudian menjadi penolakan atas wacana pengelolaan, atau investasi oleh pemerintah pusat,” sebutnya.
Baca juga: BPKH Temui Pengusaha Arab Bicarakan Tanah Wakaf Pemerintah Aceh
Menurutnya, saat ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah pusat adalah merangkul atau menggalang para hartawan Indonesia agar mau membeli tanah atau investasi ditempat lainnya untuk diwakafkan seperti Habib Bugak al Asyi dan hasilnya dinikmati rakyat Indonesia.
”Bukan tidak mungkin rakyat Indonesia yang sukses secara ekonomi bersedia mewakafkan hartanya bagi rakyat Indonesia,” tandasnya.
