Pernah beredar potongan video Ustadz Abdul Somad (UAS), namun ditambah dengan narasi tendensius. Muncullah hujatan, cemoohan, cacian dan fitnah. Bagi UAS itu baik, namun tidak bagi umat, tidak pula bagi bangsa.

Potongan video adalah informasi tak utuh, tak dalam konteks pembicaraan. Makna sebuah informasi menjadi bias, apalagi ditambah dengan narasi oleh orang yang tidak bertanggungjawab, dengan maksud mempengaruhi persepsi bayak orang sesuai kepentingannya sendiri. Hal semacam ini dapat dikategorikan sebagai berita kebohongan.

Bagaimana bisa dikatakan baik bagi UAS? Kalau bagi orang yang beriman, jawabannya sudah tersedia, jawaban Allah sendiri dalam Al Quran. Kalau bagi orang yang tidak beriman, perlu dijelaskan secara logis, namun tak menjamin dimengerti. Bisa juga diterangkan dengan fenomena yang sudah terjadi, walau ini membuat panas kuping “musuh”: tambah terkenal, dan diundang ke mana-mana.

Bagus untuk UAS tidak bagus untuk umat dan bangsa? Ya, karena memecah belah, menyebarkan prasangka, menebarkan rasa ketidakpercayaan antar golongan. Ini penyakit yang sembuhnya lama.

Musuh, hampir sepadan dengan kata “lawan”, namun lebih mengandung sisi negatif. Permusuhan selalu identik dengan kebencian, buah dari kedengkian. Munculnya bisa dari iri hati akibat ketidakadilan, namun ini dapat diatasi apabila kesejahteraan bisa dikondisikan. Yang sulit diatasi apabila muncul dari kesombongan segolongan.

Musuh, terjadi dalam konfrontasi kepentingan tertentu. Kalau sekedar berbeda, tidak selalu menjadi permusuhan. Bukankah saling mengenal itu menyenangkan? Artinya, dorongan kepentingan itulah yang menciptakan permusuhan, tidak ada yang mau mengalah, atau bahkan saling mendzalimi. Namun, asal semua kepentingan bisa dipenuhi, atau dikompromikan, permusuhan bisa sangat diminimalisir.

Bagaimana dengan permusuhan yang timbul akibat kesombongan? Ini susah diobati. Ketika kesombongan dibiarkan, seperti mendapat angin pengakuan. Ketika dilawan dengan narasi-narasi logis, ditolak dengan caci-maki. Bila sombong dilawan dengan sombong, tidak juga serta merta sadar, walau ini cara yang paling mudah meredam keangkuhan lawan.

Sekarang, coba posisikan diri sebagai musuh, akankah menjadi musuh yang culas atau adil? Niat melawan kedzaliman atau hanya kedengkian?

Kalau sudah anggap rendah, pasti niatnya buat olok-olokan. Sangat suka bila apa yang disebar disambut caci maki pengolok-olok di kalangannya. Serasa puas menghancurkan nama baik orang yang dianggap musuhnya.

Namun, yang tidak diperhatikan, olok-olokan itu tidak bertahan lama, sebab dilandaskan bukan kepada kebenaran. Suatu saat, borok akan terbuka ke publik. Walau begitu, karena sudah keras hati, tidak membuat tersadar bahkan bertambah-tambah kebebalannya.

Si pemotong video yang sekaligus sengaja menarasikan keburukan, jelas membawa permusuhan. Kasus yang pernah terjadi, potongan video dinarasikan menghina suatu etnis, agar UAS dicap rasis.

Si penerima informasi yang mengira narasi itu benar, ikut mengolok-olok, ikut membenci. Namun, “musuh yang adil”, diberi tanda kutip karena bukan sesungguhnya musuh, akan mempertimbangkan benar tidaknya walaupun ada videonya.

Ada seorang keturunan tionghoa dan non muslim, tersinggung setelah menyaksikan potongan video. Namun, berdasarkan saran teman-teman muslimnya, ia melakukan klarifikasi langsung kepada UAS. Ini contoh yang baik, dan tidak pantas disematkan kata musuh kepadanya.

Jika sudah berada di pihak yang berseberangan, apakah bisa tetap menekan egoisme kelompok serta berlaku adil seperti contoh di atas? Boleh jadi karena keyakinan yang membabibuta, sudah langsung menempatkan diri lebih tinggi untuk dengan mudahnya merendahkan yang lain.

Langkah bijaknya, tidak segera menjustifikasi potongan informasi sebelum lengkap dan jelas, walau sepertinya benar dan terlihat di pihak sendiri. Agar jangan sampai gara-gara musuh, lantas menganggap selalu salah dan bisa disalahkan.

Kunci berikutnya, apakah sudah mampu menahan diri untuk tidak mencaci pihak yang berlawanan? Karena bisa jadi itu tanda kesombongan.

Andai pun berhadapan dengan musuh, bukan berarti alasan untuk culas dan memaki. Karena adil adalah pembeda, sehingga mampu tegak di jalan kebenaran. Dan karena santun itu kerendahan hati, sehingga sanggup menerima kebenaran.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama