Pemberitaan media massa baik media cetak, elektronik maupun media online begitu masif menjelang digelarnya pemilihan presiden 2019 nanti. Sebagian media massa menampilkan keberhasilan presiden sekarang dan sebagian lainnya menampilkan kegagalan-kegagalan pemerintahannya.

Bahkan saat ini mulai dimunculkan calon presiden alternatif ketiga diluar Jokowi dan Prabowo. Diharapkan mampu menampung aspirasi rakyat untuk menumbuhkan harapan-harapan baru untuk kemajuan bangsa. Hal ini tentunya merupakan bagian dari perubahan-perubahan politik yang begitu cepat diluar dugaan para pengamat politik di negeri ini.

Beberapa hal yang mencemaskan adalah dilakukan penyerangan kepada pribadi-pribadi pejabat ataupun tokoh-tokoh masyarakat dikarenakan berseberangan pandangan politiknya. Istilah seperti kecebong, bani serbet, bani datar bahkan kecoak begitu mudah diucapkan atau dituliskan untuk memanggil orang yang berseberangan pandangan politiknya. Bahkan hal ini terkadang diucapkan oleh seorang muslim terhadap seorang tokoh agama Islam sebagaimana yang terjadi pada Habib Riezeq Shihab dan Buya Syafi’i Ma’arif.

Begitu juga yang terjadi pada Presiden Jokowi, cacian di media sosial yang menurut adat istiadat ketimuran sudah tidak pantas untuk diucapkan kepada teman, apalagi terhadap tokoh atau pejabat negara.

Kaum muslim sebagai mayoritas penduduk di negeri ini seharusnya memiliki kesamaan visi dan misi untuk kemajuan bangsa ini. Cita-cita akan negeri yang bersyariah dengan menjalankan hukum-hukum agama Islam akan semakin jauh dari harapan umat. Kekuatan umat Islam akan terpecah ketika sebagian umat sudah mendahulukan kepentingan politisnya daripada kepentingan agama.

Mengapa tidak umat Islam culik saja Pak Jokowi?

Bebaskan Pak Jokowi dari belenggu sebagai “Petugas Partai”?

Ketika umat Islam mampu mengambil beliau untuk dijadikan bagian dari perjuangan umat, maka hal itu akan lebih baik untuk kemajuan umat Islam. Ketika saat ini sebagian orang sibuk mencaci maki beliau dengan kata-kata akan tetapi tidak memberikan efek yang signifikan, hal ini malah terkadang menjadi permasalahan tersendiri di kalangan umat Islam.

Ketika umat Islam mampu “menculik” Pak Jokowi dan membebaskannya dari belenggu pihak lain, maka kekuatan umat Islam akan semakin kuat. Kinerja beliau dan semangat kerjanya memang luar biasa. Alangkah hebatnya jika dijadikan sebagai bagian dari perjuangan umat Islam.

Fenomena dengan melakukan kritikan yang tidak mendidik kepada pribadi beliau menimbulkan adanya adu domba antara sesama umat Islam. Kondisi ini tentunya akan membuat orang-orang yang tidak peduli terhadap perjuangan umat mendapatkan keuntungan tersendiri. Tanpa harus dilawan umat Islam sudah saling melawan sesama umat Muslim.

Umat Islam harus banyak belajar dari tokoh-tokoh Islam juga ulama-ulama terdahulu agar mampu menerapkan bagaimana bersikap dalam kondisi sekarang ini. Perbedaan pandangan para ahli mahzab yang menimbulkan perbedaan dalam beribadah dapat diselesaikan dengan baik. Apalagi untuk hal-hal yang berurusan dengan keduniaan semata.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama