Imam Malik, salah satu dari imam empat madzhab bersama As-Syafii, Al-Hanbali, dan Abu Hanifah, terkenal dengan ucapan yang menunjukkan ketidak-mengertian ketika dihadapkan oleh suatu pertanyaan yang ia tidak mengetahui secara pasti jawabannya.

Saya menemukan kisah ini ketika membaca buku Fatihatul Ulum karya Al-Ghazali yang diterjemahkan dengan judul ‘Buat Pecinta Ilmu’. Dikisahkan, sang penulis kitab hadits legendaris Muwatta ini mendapat 40 pertanyaan: empat pertanyaan berhasil ia jabarkan jawabannya, dan tiga puluh enam sisanya beliau jawab dengan ucapan, ‘aku tidak tahu’.

Dari kisah Imam Malik tersebut, sang penulis buku, Al-Ghazali ingin menunjukkan kepada para pembaca tentang salah satu ciri dari orang yang berilmu, yaitu sadar akan keterbatasannya dan jujur akan ketidaktahuannya.

Dilihat dari urutannya, menurut Al-Ghazali ada beberapa tingkatan ilmu wajib. Yang pertama dan paling utama adalah ilmu tentang ketuhanan, kerasulan, hakikat dunia-akhirat atau baik dan buruk (fardhu ‘ain).

Yang kedua, di bawahnya ada ilmu fardhu kifayah. Ini terdiri atas ilmu agama atau hukum-hukum syariah. Di dalam lingkup ini juga termasuk ilmu-ilmu yang bertujuan untuk kemaslahatan umat seperti kedokteran, ilmu pengetahuan alam, ilmu bahasa, komunikasi, sastra dan ilmu-ilmu penunjang lainnya.

Al-Ghazali menekankan bahwa manusia harus berusaha mencari dan meyakini ilmu mulai dari yang terpenting dahulu yaitu ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain, baru kemudian berlanjut ke macam-macam ilmu wajib lainnya.

1
2
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

3 KOMENTAR

  1. speechless..intinya keren abis…sulit untuk mengakui ” ketidak berkompetenan kita” disaat org lain menggangap kita secara kasat mata memiliki kompetensi yg sebenarnya baru superficial kita pahami..makasi tulisan nasehatnya pak Gauzal

  2. Wahhh….speechless..intinya keren abis…sulit untuk mengakui ” ketidak berkompetenan kita” disaat org lain menggangap kita secara kasat mata memiliki kompetensi yg sebenarnya baru superficial kita pahami..makasi tulisan nasehatnya pak Gauzal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama