“Kami sangat siap menggandeng fintech yang kini sedang berkembang pesat dengan kerja sama bidang penyaluran kredit, karena layanan keuangan daring ini menuntut industri perbankan lebih aktif, agar BPR tidak jauh tertinggal,” katanya.
Untuk itu, kata dia, Perbarindo berencana menjalankan beberapa program secara bersama, seperti penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan juga pembayaran.
“Kerja sama ini adalah bagian dari keingian BPR untuk bersahabat dengan teknologi, dan segera direalisasikan karena sampai saat ini masih dalam tahap penjajakan,” katanya.
Sujatno menyebutkan total jumlah BPR di Jatim mencapai 312 perusahaan atau sekitar 20 persen dari total BPR secara nasional yang mencapai 1.788 perusahaan dengan jumlah rekening mencapai 2 juta rekening.
Dari jumlah itu, total dana yang terhimpun telah mencapai Rp88 triliun dengan nilai yang dijaminkan mencapai Rp82 triliun.
Hal yang sama dikatakan Ketua Umum Perbarindo, Joko Suyanto saat berada di Surabaya beberapa waktu lalu. Ia mengakui, upaya kerja sama BPR dengan fintech bertujuan untuk menjawab tantangan terkait munculkan perbankan digital tersebut.
“Keberadaan fintech di Indonesia sudah tidak bisa dipungkiri, karena sudah menjadi tren dunia dan semuanya akan mengarah ke situ,” kata Joko, usai penandatangan kerja sama dengan Ditjen Dukcapil di Surabaya.
Oleh karena itu, kata dia, Perbarindo akan terus melakukan inovasi, yakni selain bekerja sama dengan keberadaan fintech, juga dengan direktorat jendral kependudukan untuk mengumpulkan data. (Ant/SU05)
