Warga Malinau Diminta Waspadai Penyakit Filariasis karena Menular

0
131
Filariasis
Penyakit filariasis atau kaki gajah. Penyakit ini menular (melalui nyamuk) dengan menyerang saluran dan kelenjar limfa akibat cacing filaria. (Foto: BYJU's)

MALINAU, SERUJI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara meminta masyarakatnya mewaspadai penyakit filariasis atau kaki gajah atas adanya penderita penyakit ini ditemukan beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Kesehatan John Felix Rundupadang di Malinau, Selasa (17/10), membenarkan bahwa penyakit kaki gajah ini dapat menular kepada semua kelompok umur sehingga patut diwaspadai.

“Penyakit ini menular dengan menyerang saluran dan kelenjar limfa akibat cacing filaria ini menjadi masalah serius di Kabupaten Malinau sehubungan adanya penderita yang pernah ditemukan,” kata John Felix.

Ia menjelaskan, penularan penyakit filariasis ini oleh nyamuk sangat berbahaya bagi masyarakat khususnya yang bermukim di pedesaan maupun perkotaan yang tidak menggunakan pengaman (kelambu) saat tidur.

Oleh karena itu, kata dia, Pemkab Malinau serius melakukan pencegahan dengan pengobatan dini.

“Karena penyakit ini dapat menimbulkan cacat tetap pada tubuh manusia dengan pembesaran pada kaki, lengan dan alat kelamin apabila tidak diantisipasi secepatnya,” jelasnya.

Seiring dengan upaya Pemkab Malinau ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan bulan Oktober sebagai bulan bebas penyakit filariasis (kaki gajah).

Program eliminasi penyakit ini telah dilakukan pengobatan pada 241 kabupaten/kota di Indonesia yang tergolong daerah endemis menggunakan DEC dan albendazole yang diberikan sekali dalam setahun.

WHO pada 2000 memperkirakan terdapat sekitar 120 juta orang di dunia yang menderita filariasis limfatik.

Sepertiga di antaranya mengidap infeksi yang parah hingga mengubah bentuk dari bagian tubuh yang terjangkiti.

Parasit filaria masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi.

Parasit tersebut akan tumbuh dewasa berbentuk cacing, bertahan hidup selama 6 hingga 8 tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia.

Infeksi ini umumnya dialami sejak masa kanak-kanak dan menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang tidak disadari sampai akhirnya terjadi pembengkakan yang parah dan menyakitkan. Pembengkakan tersebut kemudian dapat menyebabkan cacat permanen. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
KPU

Lima Bakal Caleg DPR Ditemukan KPU Merupakan Mantan Koruptor

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menyatakan lima bakal calon anggota Legislatif (Bacaleg) DPR yang didaftarkan partai politik merupakan mantan narapidana kasus korupsi. "Berdasarkan...

Fasilitas Tidak Standar di Sukamiskin Dibenarkan Dirjen PAS

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami membenarkan adanya fasilitas bagi narapidana korupsi yang tidak sesuai standar di...
Febri Diansyah

Kalapas Sukamiskin Diketahui Terang-Terangan Minta Mobil dan Uang

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menyatakan Kepala Lapas Sukamiskin Bandung Wahid Husein secara terang-terangan meminta mobil, uang dan sejenisnya...
kpk, komisi pemberantasan korupsi

KPK Temukan Penyalahgunaan Fasilitas Berobat di Sukamiskin

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menemukan dugaan penyalahgunaan fasilitas berobat narapidana dalam proses penanganan kasus di Lapas Sukamiskin Bandung, Jawa Barat. "Kami...

Dugaan Narapidana Sukamiskin Keluar Lapas Sedang Didalami Kemkumham

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) mendalami adanya dugaan narapidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, dapat masuk dan keluar lapas dengan...