Warga Malinau Diminta Waspadai Penyakit Filariasis karena Menular

0
80
Filariasis
Penyakit filariasis atau kaki gajah. Penyakit ini menular (melalui nyamuk) dengan menyerang saluran dan kelenjar limfa akibat cacing filaria. (Foto: BYJU's)

MALINAU, SERUJI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara meminta masyarakatnya mewaspadai penyakit filariasis atau kaki gajah atas adanya penderita penyakit ini ditemukan beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Kesehatan John Felix Rundupadang di Malinau, Selasa (17/10), membenarkan bahwa penyakit kaki gajah ini dapat menular kepada semua kelompok umur sehingga patut diwaspadai.

“Penyakit ini menular dengan menyerang saluran dan kelenjar limfa akibat cacing filaria ini menjadi masalah serius di Kabupaten Malinau sehubungan adanya penderita yang pernah ditemukan,” kata John Felix.

Ia menjelaskan, penularan penyakit filariasis ini oleh nyamuk sangat berbahaya bagi masyarakat khususnya yang bermukim di pedesaan maupun perkotaan yang tidak menggunakan pengaman (kelambu) saat tidur.

Oleh karena itu, kata dia, Pemkab Malinau serius melakukan pencegahan dengan pengobatan dini.

“Karena penyakit ini dapat menimbulkan cacat tetap pada tubuh manusia dengan pembesaran pada kaki, lengan dan alat kelamin apabila tidak diantisipasi secepatnya,” jelasnya.

Seiring dengan upaya Pemkab Malinau ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan bulan Oktober sebagai bulan bebas penyakit filariasis (kaki gajah).

Program eliminasi penyakit ini telah dilakukan pengobatan pada 241 kabupaten/kota di Indonesia yang tergolong daerah endemis menggunakan DEC dan albendazole yang diberikan sekali dalam setahun.

WHO pada 2000 memperkirakan terdapat sekitar 120 juta orang di dunia yang menderita filariasis limfatik.

Sepertiga di antaranya mengidap infeksi yang parah hingga mengubah bentuk dari bagian tubuh yang terjangkiti.

Parasit filaria masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi.

Parasit tersebut akan tumbuh dewasa berbentuk cacing, bertahan hidup selama 6 hingga 8 tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia.

Infeksi ini umumnya dialami sejak masa kanak-kanak dan menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang tidak disadari sampai akhirnya terjadi pembengkakan yang parah dan menyakitkan. Pembengkakan tersebut kemudian dapat menyebabkan cacat permanen. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Peringati Hari Kartini, Gus Ipul Persembahkan Puisi untuk Perempuan Jawa Timur

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tak lupa menyampaikan semangat Kartini pada peringatan hari Kartini, Sabtu...

Polda Babel Ringkus Tiga Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

PANGKALPINANG, SERUJI.CO.ID - Tim Cobra Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepulauan Bangka Belitung meringkus tiga pelaku penyalahgunaan narkoba yang beroperasi di wilayah itu. "Tiga pelaku masing-masing...

Korban Tewas Terlihat Berpesta Dua Malam

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Tiga korban yang pada Ahad (22/4), meninggal dunia di Surabaya terlihat menggelar pesta minuman keras selama dua malam sebelum kematiannya, kata...

Oknum BNN Langsa Ditangkap Terkait Sabu-Sabu

LANGSA, SERUJI.CO.ID - Dua oknum polisi yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa, Propinsi Aceh ditangkap personel Provos Polres setempat, atas dugaan...
Korban tewas miras

Polisi Temukan 2 Botol Yang Diduga Milik Korban Tewas Miras Oplosan

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Polisi dari Polsek Tambaksari menemukan dua botol kemasan plastik yang didua sebelumnya berisi minuman keras (miras) oplosan yang menewaskan tiga korban...