Presiden Palestina Tanyakan Kebijakan Aneh AS

NEW YORK, SERUJI.CO.ID – Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa (20/2) mempertanyakan apa yang ia sebut kebijakan “aneh” Gedung Putih mengenai Timur Tengah.

“Kami bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump empat kali pada 2017 dan kami telah menyampaikan kesediaan mutlak kami. Kami berulangkali menegaskan kembali posisi kami sejalan dengan hukum internasional, resolusi PBB yang relevan dan penyelesaian dua-negara dengan dasar perbatasan 1967,” kata Abbas di dalam pidato di Dewan Keamanan PBB.

“Ya, pemerintah (Trump) ini belum menjelaskan posisinya. Apakah mendukung penyelesaian dua-negara, atau satu-negara?” demikian Abbas mempertanyakan.

“Dan, kemudian, dalam sikap yang berbahaya dan tak pernah ada sebelumnya, pemerintah ini mengambil keputusan yang tak sejalan dengan hukum, yang ditolak oleh masyarakat internasional, untuk menghilangkan masalah Jerusalem ‘dari meja’ dan mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel serta memindahkan kedutaan besarnya ke kota tersebut,” kata Abbas.

“(Pemerintah) tersebut melakukan tindakan yang mengabaikan Jerusalem adalah wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967 dan ibu kota kami, yang kami ingin jadikan sebagai kota tebuka buat semua pemeluk tiga agama langit, Islam, Kristen dan Yahudi,” katanya.

Abbas mengatakan Amerika Serikat telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dirinya dan bertentangan dengan komitmennya sendiri dan telah melanggar hukum internasional dan resolusi terkait PBB dengan keputusannya mengenai Jerusalem.

“Juga terasa aneh bahwa Amerika Serikat masih memasukkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ke dalam daftar terornya dan memberlakukan pembatasan atas pekerjaan misi Palestina di Washington dengan dalih keputusan kongres sejak 1987,” kata Abbas dalam debat bulanan di Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Timur Tengah.

“Jika Kongres berfikir kami adalah teroris, bagaimana pemerintah itu memiliki hubungan dengan kami, bagaimana pejabat pemerintah itu mengunjungi kami, bagaimana pemerintah itu memberi bantuan kepada kami?” tanyanya.

Debat tersebut dihadiri oleh Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley.

“Bagaimana, bagaimana? Bagaimana kalian membantu ‘teroris’?” Abbas mempertanyakan.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER