Krisis Gaza Kian Parah, Satu satunya Pembangkit Listrik Dimatikan

GAZA – Satu-satunya pembangkit listrik yang beroperasi di Jalur Gaza dimatikan pada Rabu (12/07) karena kurangnya bahan bakar. Sehingga terjadi pemadaman listrik total di daerah tersebut.

“Kami telah mematikan turbin operasi terakhir di pembangkit listrik di kota Gaza selatan,” ungkap pejabat di perusahaan pembangkit listrik yang dijalankan Hamas, dilansir oleh Al Jazeera, Kamis (13/07).

Wilayah Palestina marjinal tersebut yang dihuni lebih dari dua juta orang penduduk telah menderita krisis energi sejak pertengahan April, sebagai dampak dari perselisihan mengenai pajak antara Hamas, yang memerintah wilayah tersebut, dan Presiden Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat, Mahmoud Abbas.

Seperti yang diketahui, Gaza berada di bawah blokade ketat Israel selama satu dekade dan penduduknya telah mengalami pemadaman listrik secara terus-menerus.

Penduduk di Gaza umumnya menerima listrik tiga sampai empat jam sehari yang dikirim dari pembangkit listrik sendiri dan yang lainnya dari daerah pendudukan Israel dan Mesir.

Jalur Gaza membutuhkan 450 megawatt setiap hari, namun bulan lalu hanya menerima sekitar 150 megawatt setiap harinya.

Satu-satunya pembangkit listrik Gaza yang memasok 60 megawatt tersebut, sebelumnya pernah ditutup pada bulan April lalu karena kehabisan bahan bakar. Sebelum penutupannya, Otoritas Palestina menghapus subsidi pajak atas bahan bakar diesel, sehingga menggandakan harga bahan bakar menjadi tidak terjangkau.

Dua minggu yang lalu, Mesir mengirim sekitar 4 juta liter bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik, namun hal tersebut tidak cukup untuk mengatasi krisis yang kian memburuk. Jalur listrik yang dibangun untuk memasok listrik dari Mesir telah rusak di tengah pertempuran sengit Mesir dengan pemberontak di wilayah Sinai.

Israel, yang memasok 125 megawatt, atau 30 persen dari total kebutuhan listrik di Jalur Gaza, pada bulan lalu memutuskan untuk mengurangi jumlah listrik yang dikirim ke Gaza setidaknya 40 persen setelah Abbas memotong dana listrik oleh Otoritas Palestina.

Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai upaya Abbas untuk meningkatkan tekanan pada gerakan Hamas yang merupakan saingan politiknya.

Sebelumnya telah dilaporkan, Amnesty International memperingatkan bahwa pengurangan pasokan listrik akan berdampak buruk dengan rusaknya infrastruktur di Gaza dan menyebabkan bencana kesehatan masyarakat.

Langkah tersebut juga akan membahayakan ribuan nyawa termasuk pasien rumah sakit dengan keadaan kondisi yang kronis atau dalam perawatan intensif, termasuk bayi yang berada dalam penanganan khusus. (Gzl/HA)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER