
Hari ini seragam itu jadi. Saya menilpon mereka untuk mengambil seragam itu. Mereka datang ke rumah dan mencoba memakainya. Amrul dan Arif tampak bahagia. Amrul hanya berkata: “Terimakasih Pak. Saya jadi tambah PD (Percaya Diri).” Arif yang duduk di sampingya tersenyum kecil.
Sungguh ceritera sederhana ini adalah percikan wajah rakyat negeri ini yang di atas sana dibicarakan sebagai “bonus demografi.” Usia mereka memang muda muda. Namun pendidikan mereka terbatas. Mereka mendapat ketrampilan sebagai montir karena bergulat mencari sendiri. Awalnya mereka peroleh dari sekedar tukang cuci mobil, tukang mengganti oli, hingga akhirnya menjadi montir sungguhan.
Orang-orang semacam inilah yang jadikan Indonesia ada dan terus bertahan. Walaupun mereka terseok, namun mereka tetap gigih mencari peluang yang ada.
“Habis mau apa lagi? Kami harus makan.” Kata-kata Amrul sungguh sederhana, tetapi itulah yang menjadi dasar ia melanjutkan kehidupan. Itu pulalah yang hingga kini masih mengiang di telinga saya.
*) Penulis adalah sosiolog dan Dosen di FISIP Universitas Indonesia, juga pendiri dan penggerak Yayasan Nurani Dunia, sebuah lembaga sosial dan pendidikan yang bertujuan membantu kalangan kurang mampu.
(Hrn)
