
Nama montir yang malam itu datang ke rumah adalah Amrul dan Arif. Amrul asal Cirebon dan Arif asal Tasik. Amrul terlihat yang menjadi otak kelompok ini. Karena itu, ia tampak menjadi pimpinan informal mereka. Arif sendiri awalnya hanya seorang penjahit baju. Amrul lah yang mengajarinya tentang seluk beluk mesin mobil. Teman-temannya yang lain juga mengalami proses pembelajaran sama. Mereka belajar melalui praktek langsung, sambil cari uang.
Saya sangat terkesan dengan ceritera Amrul yang mengatakan bahwa apa yang ia lakukan bersama teman-temannya adalah sebuah perjalanan panjang. Mereka menimba ilmu dari pengalaman praktek. Bukan teori sebagaimana layaknya terjadi di sekolah. Namun justru pengalaman kerja seperti itulah yang menjadikan Amrul dan teman-temannya siap pakai, dan berani membuka usaha ini.
Amrul sendiri sebenarnya berlatar belakang SMK Elektro, bukan mesin. Namun ia bertahun-tahun bekerja di bengkel, pindah dari bengkel satu ke bengkel lain. Terakhir, bengkel mereka berada di pinggir jalan daerah Kalimalang, daerah perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi.
Tahun lalu, rupanya rintisan mereka membuka bengkel kandas akibat penggusuran. Bengkel mereka terpaksa harus tutup karena lokasinya digusur untuk jalan toll. Menurut Amrul, mereka mencoba usaha montir panggilan karena langkah darurat. Pembangunan jalan toll yang megah melindas mata pencaharian mereka.
“Habis mau apa lagi? Kami harus makan.” Amrul menjelaskan dengan suara lirih, hampir tak terdengar. Arif, teman Amrul yang menjadi montir pendamping saat itu, tampak tersenyum pahit. Arif seperti menyerahkan nasibnya ke Amrul.
“Ya, kami mencoba cara ini (menjadi montir panggilan) baru satu tahun, sejak bengkel tempat kami tergusur. Kalau tidak, dengan cara apa lagi?”
