Walau Cabut Banding, Keluarga Anggap Kasus Ahok Adalah Imbas Persaingan Politik

JAKARTA – Keluarga terpidana kasus penodaan agama Islam, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meyakini bahwa kasus penodaan agama yang ditimpakan ke Ahok adalah imbas dari persaingan politik.

Fify Lety Indra, adik kandung Ahok, yang mendampingi istri Ahok, Veronica Tan, dalam konprensi pers yang diadakan di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakpus, hari ini, Selasa (23/5), menyampaikan bahwa peradilan dan vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan Hakim lebih karena tekanan massa.

“Seandainya Ahok itu bukan orang keturunan dan seandainya Ahok tidak beragama Kristen, apakah pengadilan ini ada? Saya bilang hanya masyarakat dan rekan-rekan yang bisa menjawabnya,” jelas Fifi.

Fifi juga menjelaskan bahwa dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut, tidak ada satupun saksi yang dihadirkan yang berasal dari Kepulauan Seribu tempat peristiwa yang dituduhkan.

“Saksi pelapor justru orang yang tidak berasal dari lokasi dimana Ahok menyampaikan pidatonya di pulau Pramuka kepualuan Seribu,” ungkap Fifi.

Menurut Fifi saat Ahok menyampaikan pidato yang kemudian dianggap menista agama Islam dengan menyebut-nyebut surat Al Maidah, tidak ada warga Kepulauan Seribu yang marah.

“Tidak ada satu pun orang di Kepulauan Seribu yang tersinggung dan marah karena agamanya diolok-olok. Tidak satu pun hujatan terhadap BTP,” kata Fify.

Sebagaimana diketahui, pada Senin (22/5), Ahok mencabut permohonan bandingnya atas keputusan Hakim dalam persidangan kasus penodaan agama, yang memvonis 2 tahun penjara.

 

EDITOR: Harun S

6 KOMENTAR

  1. “Tidak ada satu pun orang di Kepulauan Seribu yang tersinggung dan marah karena agamanya diolok-olok. Tidak satu pun hujatan terhadap BTP,” kata Fify.

    pengakuannya memang benar ahok mengolok-olok, menista, dan itu gak perlu marah, hukum yang berbicara bu Fify

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Orang-Orang Merdeka

Sejak media menjadi industri, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal, dan erubahlan wartawan hanya sebagai alat produksi semata

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER