Prediksi Jokowi Kembali Menang Pilpres, Begini Alasan Rizal Ramli


SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Ekonom Rizal Ramli memprediksi calon presiden (capres) Jokowi akan memenangi Pemilihan Presiden 2019 setelah melakukan wawancara langsung kepada masyarakat.

“Saya lakukan survei saat ke daerah-daerah dan bertanya siapa calon presiden yang dipilih,” ujarnya usai memberi sambutan pada pelantikan pengurus DPW Asosiasi Pengusaha Bumi Putera Nusantara Indonesia (Asprindo) Jatim di Surabaya, Sabtu (29/9).

Menurut dia, survei yang dilakukannya secara spontan di lapangan lebih akurat dibandingkan lembaga survei, terlebih jika sudah berpihak atau berdasarkan kepentingan politik tertentu.

“Saya survei langsung di lapangan, kebetulan saya sering keliling Indonesia. Hampir semua profesi sudah saya tanya, dari sopir taksi, pedagang, pelayan toko, satpam, buruh, ibu rumah tangga sampai wartawan,” ucapnya.

Berdasarkan survei yang dilakukannya sendiri itu, Jokowi yang pada pilpres mendatang berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin tersebut meraih 40 persen suara, kemudian Prabowo Subianto yang maju bersama Sandiaga Uno mendapat 30 persen suara.

Sedangkan, 30 persen suara lainnya belum menentukan pilihan atau kerap disebut massa mengambang.

Karena itulah, kata dia, jika pasangan Prabowo-Sandiaga mampu merangkul atau menggandeng mereka yang belum menentukan pilihan maka diprediksinya bisa membalikkan hasil dan memenangkan pilpres tahun depan.

“Apalagi jika Jokowi tidak mengoreksi menteri-menteri di kabinet yang dianggap kerap melakukan blunder politik,” ucap mantan Menteri Koordinator Kemaritiman tersebut.

Pemilihan Presiden yang diselenggarakan pada 17 April 2019 diikuti dua pasangan calon, yaitu Jokowi-KH Ma`ruf Amin di nomor urut 01, kemudian Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di nomor urut 02. (Ant/SU01)

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Soal Publikasi Reuni 212: Kebebasan Pers di Era Media Sosial

Reuni 212 jelas peristiwa besar, jika dilihat banyaknya massa yang berkumpul. Ia juga jelas peristiwa besar jika dilihat dari tertib dan disiplin massa itu. Namun jelas pula Reuni 212 bukan peristiwa netral.

Mengkritisi Strategi Anti-Korupsi Para Capres

Debat capres putaran pertama telah usai. Terlepas paslon mana yang akan keluar sebagai juara dan berhak memimpin Indonesia dalam lima tahun ke depan, tulisan ini ingin mengkritisi ide dan gagasan para paslon seputar pemberantasan korupsi.

Divestasi Freeport

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close