JAKARTA – Dompet Dhuafa mengaku telah menyiapkan rancangan program jangka panjang untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan Muslim Rohingya di Myanmar. Selain itu, Dompet Dhuafa bersama lembaga kemanusiaan lain juga menghadirkan tiga intervensi program guna menjamin kelangsungan hidup mereka.
Intervensi pertama menyangkut akses air bersih dan sanitasi di kawasan-kawasan pengungsian, dan lokasi pergerakan pengungsi di perbatasan antar negara. Program ini sangat penting mengingat kondisi air dan sanitasi di kawasan tersebut sangat memprihatinkan.
Kedua adalah di lini pendidikan, melalui Sekolah Guru Indonesia atau Sekolah Literasi Indonesia dengan menghadirkan peserta didik. Sehingga sistem yang ada di program sekolah guru tersebut dapat diaplikasikan di pengungsian. Kemudian untuk di kawasan pergerakan pengungsi di perbatasan antar negara, Dompet Dhuafa menghadirkan School For Refugee.
“Bahkan School For Refugee telah berjalan sejak kedatangan manusia perahu atau pengungsi dari Rohingya yang masuk ke sejumlah wilayah di Medan dan Aceh di periode 2015 dan 2016. School For Refugee juga banyak diadopsi dan mendapatkan penghargaan dari UNHCR,” kata Bambang Suherman, selaku Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa, di Jakarta, Kamis (7/9).
Intervensi berikutnya adalah program Livelihood atau pendekatan ekonomi dengan merancang Peace Concept Pasar Ramah yang bertujuan untuk memunculkan interaksi dan transaksi pragmatis para pihak yang bersengketa saat ini. Adanya pasar tersebut, diharapkan dapat menciptakan interaksi yang bagus dan juga menimbulkan saling ketergantungan di antara mereka. “Sehingga terbangun kesadaran bahwa mereka sebenarnya saling membutuhkan, bukan saling berperang,” jelas Bambang.
