MENU

OJK Dorong IKNB Tingkatkan Investasi EBA-SP

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) mendorong industri keuangan nonbank (IKNB) dan lembaga keuangan lainnya untuk meningkatkan investasi melalui instrumen Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi, atau disebut EBA-SP, agar turut memenuhi kebutuhan perumahan dalam negeri.

“Individu juga diharapkan bisa aktif dalam mendukung instrumen EBA-SP,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi dalam Sosialisasi dan Edukasi Instrumen EBA-SP dengan tema “Peluang dan Prospek EBA-SP Bagi Lembaga Jasa Keuangan” di Jakarta, Jumat (9/2).

Riswinandi mengatakan bahwa melalui instrumen EBA-SP, diharapkan dapat mendukung kebutuhan masyarakat akan perumahan serta mempercepat proses pertumbuhan volume Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Kita ketahui sama-sama bahwa kebutuhan akan perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam kebutuhan manusia. Namun, disadari juga bahwa dibutuhkan dana yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan ini,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa seiring dengan pertumbuhan penduduk,maka angka kebutuhan hunian yang belum terpenuhi atau backlog terus meningkat, jumlah backlog saat ini mencapai 13,5 juta di Indonesia.

“Portofolio terbesar pembiayaan perumahan adalah berasal dari industri perbankan. Namun demikian, industri perbankan juga menghadapi potensi adanya ‘maturity miss match’ dan ‘funding gap’ (kesenjangan pembiayaan,red),” katanya.

Menurut dia, hal itu disebabkan dana yang disalurkan oleh pihak perbankan untuk pembiayaan perumahan bersumber dari dana pihak ketiga yang karakteristik penyimpanannya jangka pendek, sementara penyaluran pembiayaan perumahan memiliki karakteristik jangka panjang.

” EBA-SP, bisa menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi masalah ‘missmatch’ itu dalam pembiyaan pemilikan rumah tersebut,” paparnya.

Riswinandi juga mengatakan, pihaknya membuka diskusi dengan pelaku pasar sehingga membuka pasar EBA yang lebih luas mengingat saat ini baru Sarana Multigiriya Finansial (SMF) dan perbankan.

“Kalau sekarang mungkin baru SMF dan BTN, keduanya belum menyerap secara banyak, jadi perlu ‘market maker’ agar pasar terbentuk. Mudah-mudahan ini menjadi suatu solusi untuk pembiayaan jangka panjang,” katanya.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER