NU Jatim Prediksi Idul Fitri Tahun Ini Sama

0
22
hilal
Ilustrasi--Petugas melihat posisi hilal (bulan sabit tanda awal bulan) guna menetapkan 1 Ramadan. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur, KH Shofiyulloh memprediksi Lebaran 2018 tidak berbeda, karena Ramadhan kemungkinan besar hanya 29 hari dan 1 Syawal 1439 Hijriah diperkirakan pada Jumat, 15 Juni 2018.

“Karena itu, pada Kamis, (14/6) sore, kami akan menyelenggarakan rukyatul hilal atau pengamatan bulan baru secara kasat mata untuk memastikan kapan berakhirnya Ramadhan dan kapan masuknya tanggal 1 Syawal 1439 H,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Kepanjen Malang itu di Surabaya, Selasa (12/6).

Menurut dia, Kamis (14/6) bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1439 Hijriah dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini kemungkinan tidak mengalami perbedaan, karena menurut hasil hisab (perhitungan matematis) Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur bahwa Kamis (14/6) menunjukkan posisi hilal (bulan muda) berada di atas ufuk dengan ketinggian 06 46’33” dan umur bulan 14 jam 39 menit 36 detik, lalu ijtimak (konjungsi) terjadi pada Kamis (14/6) dini hari pukul 02:42:53 WIB.

Loading...

“Berdasarkan hasil hisab itu, kemungkinan Kamis (14/6) sore, hilal bisa dilihat sehingga Ramadhan 1439 H diperkirakan sudah berakhir dan tanggal 1 Syawal 1439 H jatuh pada hari Jumat (15/6),” kata pria yang akrab disapa Gus Shofi itu.

Namun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil rukyatul hilal, ikhbar PBNU dan sidang itsbat Pemerintah.

Dalam rangka pelaksanaan rukyatul hilal itu, Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur telah menyiapkan 23 lokasi rukyat bekerja sama dengan pengurus Lembaga Falakiyah PCNU, Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi Agama Islam se-Jawa Timur.

Lokasi yang dimaksud adalah Banyuwangi (Pantai Pancur), Blitar (Falak Park Wonotirto dan Bukit Banjarsari), Jombang (Satradar AURI Kabuh dan Masjid Jami’ PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Bangkalan (Pantai Gebang), Sampang (Pelabuhan Taddan), Pamekasan (Pantai Garindo Ambat Tlanakan dan Observatorium IAIN Madura), dan Sumenep (Pantai Tanaros).

Untuk lokasi lainnya terletak di Gresik (Bukit Condrodipo dan Pantai Tanjung Mulya Bawean), Lamongan (Tanjung Kodok dan Masjid Jami’ PP Roudlotut Tholibin Sendangduwur Paciran, dan Ponorogo (Watoe Dhakon Observatory STAIN Ponorogo dan Gunung Sekekep Pulung).

Selanjutnya, Pasuruan (LAPAN Bukit Watukosek), Jember (Bukit G Sadeng), Bojonegoro (Bukit Wonocolo Kedewan), Kediri (MAN Kandangan), Pacitan (Pantai Srau), Madiun (Lereng Gunung Pandan Saradan), dan Situbondo (Pantai Kalbut).

“Dalam penentuan awal puasa atau hari raya, NU memang menggunakan metode rukyatul hilal (melihat bulan) yang dipandu dengan hisab (perhitungan). Karena itu, NU Jawa Timur tetap melaksanakan rukyat hilal yang hasilnya akan dilaporkan kepada Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta untuk diteruskan ke sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama,” katanya. (Ant/Su02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...
BERITA PILIHAN

TERBARU