Milad YDSF: Menyiapkan Generasi Emas di Era Digital

0
184
  • 21
    Shares
Narasumber dalam Seminar Milad YDSF, Prof. Dr. Muhammad Nuh DEA, Ustadz Muhammad Jazir ASP dan Dr. Eng. Khairul Anwar dan moderator penyiar radio Suara Surabaya (SS), Isa Anshori. (foto: SERUJI/Firman)

SURABAYA – Milad YDSF, Yayasan Dana Sosial Al Falah tahun ini terlihat lebih semarak. Selain karena YDSF sudah memasuki umur yang ke-30, YDSF melihat tantangan yang lebih besar di era digital ini. Hal inilah salah satu yang melatarbelakangi, YDSF mengambil tema “Menyiapkan Generasi Emas di Era Digital” di Milad Spesial YDSF yang ke-30. Puncak Milad yang kental sekali nuansa teknologinya ini, dilaksanakan di Graha ITS Surabaya, pada hari Ahad 26 Maret 2017.

Gong acara milad diisi dengan Kajian Aktual Al-Falah. Undangan yang hadir di tempat yang biasa dipakai wisuda mahasiswa ITS adalah para donatur, penerima donatur dan mitra stategis YDSF. Pembicara-pembicara yang hadirpun adalah tokoh-tokoh nasional dan sangat kompeten di bidangnya. Terlihat ada Prof. Dr. Muhammad Nuh DEA, Ustadz Muhammad Jazir ASP dan Dr. Eng. Khairul Anwar. Mereka bertiga di atas panggung dimoderatori oleh penyiar radio Suara Surabaya (SS), Isa Anshori.

“Didiklah anakmu sesuai zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi massa yang berbeda dengan massamu,” kata Prof. Dr. Muhammad Nuh DEA mengutip perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib di awal orasinya.

Dewasa ini, kita dihadapkan dengan sebuah generasi, yang kata beliau disebut dengan generasi Millennials. Generasi yang sekarang usianya masih muda, dan punya semangat yang membara.

Generasi ini memang memiliki semangat yang luar biasa, tapi ada satu hal yang kadang salah dipahami. Generasi ini suka yang instan. “We want it now”, begitulah sebutannya ujar mantan rektor ITS ini.

Ustadz Muhammad Jazir ASP sebagai pembicara ke-2 membahas dari sisi leadership.

“Kehebatan suatu bangsa bukan dilihat dari kekayaan alam, kekayaan harta, tetapi kehebatan suatu bangsa dapat di lihat dari kepemimpinan yang hebat,” pesannya.

“Kawah candradimukanya para calon-calon pemimpin yang paling awal adalah di dalam lingkungan keluarganya, sejak kecil harus membiasakan diri menjadi pemimpin, melatih kedisiplinan, kemandirian, dan berpikir merdeka tidak bergantung pada siapapun kecuali kepada Allah,” tambahnya untuk menguatkan para pelajar dan mahasiswa yang hadir sebagai undangan yang juga sebagai penerima manfaat dari donatur YDSF.

“Teknologi atau paten yg baik itu simple, manfaat signifikan, belum terfikirkan orang,” kata Dr. Eng. Khairul Anwar mengawali pembicarannya tentang teknologi sebagai pembicara ke-3.

Pemegang beberapa paten ini melanjutkan, perjuangannya dalam penemuan 4G tidak mudah. Awalnya dihina, diremehkan. Tapi inilah yang namanya perjuangan. Terus berjuang submit paten 4G ini di Amerika, Jepang, Korea dan Eropa hingga akhirnya diterima dan tahun 2009 dipakai sebagai standar telekomunikasi dunia.

“Coba kita baca dan cermati Q.S Ibrahim ayat 24-25, Kita sebagai muslim atau generasi emas harus berakar kokoh yaitu berakidah yang kuat dan menghasilkan buah yang bermanfaat untuk sekitarnya. Maka haruslah muslim memiliki karya untuk umat,” nasehatnya untuk adik-adik pelajar dan mahasiswa.

Salah satu undangan dari mitra strategis YDSF yang tampak hadir adalah ketua yayasan SDM IPTEK, Budi Nur Iman. Jurnalis SERUJI berhasil mewancarai dosen PENS ini selesainya acara.

“Acara milad YDSF ini, memberi inspirasi yang luar biasa untuk tidak lelah berkarya dan terus berprestasi,” ujar Pak BNI panggilan akrabnya.

“Paparan presentasi ketiga pembicara tentang menyiapkan generasi masa depan, sungguh sangat krusial dan menyeramkan. Oleh karenanya inilah waktu yang tepat untuk berinvestasi dalam bentuk pembinaan sumber daya manusia,” tambahnya dengan semangat yang saat itu didampingi pengurus pesantren mahasiswa SDM IPTEK dan santrinya.

EDITOR: Iwan S

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU