“Biaya kos Rp450.000/bulan. Satu kamar di lantai dua ditempati anak dan cucu saya. Terkadang salah satu anak saya tidur di bawah (teras kos). Yang penting bisa buat taruh pakaian dan tidurnya anak serta cucu,” katanya.
Reni memberikan bantuan uang kos selama sebulan untuk meringankan beban Supenah yang kesehariannya membuka warung kopi di teras rumahnya yang ambruk. Hasil warung cukup untuk makan sehari-hari.
Sementara itu, Supenah menuturkan rumahnya ambruk pada Jumat (9/2) pagi.
“Rumah ini buatan tahun 1975. Saya tidak bisa bangun karena tidak ada biaya. Saya janda dengan 4 anak. Anak saya menganggur dan kalau kerja seadanya,” kata Supenah.
Mbah Sepenah berharap agar rumahnya bisa segera diperbaiki dan ditempati sehingga tidak perlu lagi kos lagi.
“Pihak RW baru tahu tadi pagi (Senin (12/2)). Langsung dilaporkan ke LPMK, kelurahan. Juga dilaporkan ke Mas Yayan yang merupakan jamaah pengajian saya. Oleh Mas Yayan disampaikan ke Bu Reni dari DPRD,” kata ketua RW VIII, Kelurahan Pakis Shulton.
Musholli selaku Kasi Pembangunan Kelurahan Pakis menambahkan, pihaknya sudah mendata dan mengambil foto kondisi rumah yang ambruk. Selanjutnya akan dikoordinasikan dengan Dinas Sosial. (Ant/SU03)
